Kamis, 10 Mei 2018

DIlan & AlGojo

Bosan sebenarnya ku bahas kau Dilan
Tapi ini soal AlGojo-mu yang bertebaran di jalan

Semua tahu kau setan jalanan
Tak perlulah ada AlGojomu yang penuhi jalan
Ini makin tunjukkan kau tak jantan
Yang beraninya keroyokan

Panglima harusnya maju terdepan
Eh.. malah AlGojomu yang lempar selebaran
Tebar cerita hebatnya rayuan memabukkan
Yang buat Milea terlena dalam buaian

Cepat terbangunlah dari tidurmu Dilan
Cukup satu Milea saja digenggaman
Tak perlulah kau jadi Don Juan
Karena tak akan kuat kau berjalan

Bilang AlGojo-mu tuk menyingkir dari jalan
Jangan lagi tebar kebohongan
Ingat sebentar lagi ramadhan
Mending banyakin baca qur'an

#tetapgantidilanaja
#bukangantipresiden

Ramai karena Qur'an


Tiba-tiba Nawa pindah dr kamarnya ke kamar ayahnya sambil manyun, " Ayah.... itu tuh Mey gangguin aku jadi gak bisa konsen menghafal..."😒
"Emang Mey gangguin apa? Emang kamu lagi hafalin apa?", tanya saya.
Setelah agak reda manyunnya, baru Nawa mulai bicara, "Mey tuh baca Qur'an kenceng2 di kamar... aku kan jadi gak konsen hafalin surat Ar-Rahman..."
Sebelum mamanya ikutan komentar, saya cukup bilang, "Udah gak papa, kamu istighfar ya..." sembari elus rambutnya.

Buat saya, ini berantem kakak-adik yg paling membahagiakan. Syukur Alhamdulillah karena anak2 berantem untuk kebaikan. Meramaikan rumah dengan bacaan Qur'an, berlomba untuk segera khatam, bersaing banyaknya hafalan surat, saling mengingatkan untuk baca Qur'an tiap hari meski cuma 1-2 ain, atau sekedar rebutan ambil mushaf kesayangan. Rumah jadi lebih nyaman karena tak pernah sepi dari indahnya bacaan Qur'an.

Mudah2an kelak mereka nanti terus berlomba untuk kebaikan yang jauh lebih besar dan bermanfaat. Kebaikan yang sejatinya orang tuanya lah yang paling banyak dapat manfaatnya. Insya Allah....

Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan... (Al Baqarah : 148)

Rabu, 11 April 2018

Kukira Umar... ternyata Dilan

Uang ditebar berlagak bak Umar
Aih... ternyata dia Dilan sang panglima jalanan
Kupikir dia diam bersabar.... taunya tebar pesona di jalan

Milea..... kenapa dengan Dilanmu?
Tak cukupkah sekali saja Dia merayumu?
Kuharap Kau tetap tegar, mungkin dia butuh udara segar
Sesekali pengen jajan dan beli cemilan

Lihat sekarang dia merajukmu
Dipakainya kaos bertulis janji setia
Janji tahun depan tak lagi bengal demi kamu
"Cukup Satu Milea..." katanya

Tetap jaga Dilanmu Milea...
Pegang terus janjinya...
Meski entah tahun depan apa lagi janjinya...

Karena yang paham Dilan cuma kamu, yang lain tidak

#BukanGantiPresiden
#GantiDilanAja

Taman Laut

Lihatlah itu ikan-ikan yang berenang
Berkejaran diantara terumbu karang
Di hamparan pantai berombak tenang
Yang disirami mentari bersinar terang

Taman lautku indah memesona
Senang hatiku melihatnya
Beraneka ragam ikan berada disana
Karena lestari terumbu karangnya

Indonesia negeri lautan
Taman lautnya banyak tak terbilang
Dari Raja Ampat, Bunaken hingga Derawan
Kita jaga agar kelak cerita indahnya tak hilang

Polusi

Sulit rasanya kuhirup segarnya udara
Karena udara yg terpolusi jelaga
Jutaan kendaraan penuhi jalan raya
Pekat asapnya sesakkan dada

Di pinggir kota ratusan pabrik merajalela
Muntahkan ke sungai limbah berbahaya
Sembur asap hitam membumbung angkasa
Tak peduli lagi lingkungan sekitarnya

Mari kawan kita perbaiki semua
Tuk kurangi kendaraan di jalan raya
Gunakan saja angkutan kota
Tinggalkan motor, mulai kayuh sepeda

Bersihnya sungai kita jaga bersama
Tak boleh lagi limbah dibuang disana
Tanamlah pohon tuk sejukkan udara
Kurangi polusi agar sehat badan kita

Selasa, 13 Februari 2018

Spaghetti Rasa Mie Rebus Telor

Seperti biasa, setiap hari minggu kami memasak sendiri di rumah. Untuk hari minggu kemarin, Mama sudah rencanakan untuk memasak Spaghetti Carbonara. Kebetulan ada saudara datang berkunjung, kali ini porsi memasaknya ditambah. Sebelumnya, Mama gak pernah pernah buat Spaghetti Carbonara untuk keluarga. Setelah mencari resepnya di Google, sehari sebelumnya kami siapkan bahan-bahannya.

Sesuai petunjuk resep di internet, bahan-bahannya adalah Spaghetti, susu cair, margarin, keju, bawang bombay, bawang putih, bubuk maizena, irisan tipis daging sapi, dan telor. Kami siapkan semua bahan-bahannya sesuai resep. Mulailah kami memasak bersama menjelang jam makan siang. Untuk memasaknya, kami semua berbagi tugas.

Pertama, Kakak Nawa yang rebus spaghettinya. Sembari menunggu, bawang Bombay dan bawang putih dikupas dan dipotong kecil oleh Mama. Tidak lupa Mey yang potong memanjang irisan daging sapi. Farrel yang potong-potong kejunya dan Ayah yang aduk-aduk telornya.  Setelah selesai, kami panaskan wajan dengan margarine, kemudian kami tumis sebentar bawang dan irisan daging bersamaan. Setelah berubah warna, dituangkan susu, irisan keju, dan yang terakhir adukan telor. Setelah semua tercampur rata, akhirnya saus spaghetti siap. Berikutnya tinggal meniriskan rebusan spaghetti untuk disajikan di piring.

Kami membayangkan spaghetti carbonara buatan kami akan sama specialnya dengan yang ada di restoran. Tapi setelah dimakan, malah terasa seperti mie instan rebus telor. Ternyata ada kesalahan di dalam resep. Seharusnya untuk memasak saus spaghetti seharusnya tidak pakai telor. Tapi biarlah, yang terpenting kami sudah memasak bersama dan bisa menikmati makanan yang ada meski sebenarnya gagal memasak Spaghetti Carbonara rasa restoran. 



Minggu, 28 Januari 2018

Derai Derai Cemara (Sinopsis Puisi Charil Anwar)

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949
Karya Chairil Anwar


Bila menilik kehidupan Chairil Anwar, puisi Derai Derai Cemara ini dibuatnya saat Sastrawan itu sakit menjelang kematiannya. Chairil Anwar meninggal saat berumur 27 tahun karena menderita TBC. Saat itu hidupnya tengah dirundung masalah karena sang istri meninggalkannya dan meminta cerai saat anaknya baru berumur 7 bulan.

Puisi ini menunjukkan kegundahan dan kegelisahan hidup Chairil Anwar yang merasa waktunya di dunia tidak lama lagi. Pilihan kata-kata dalam puisi sederhana, namun tak biasa digunakan orang awam sehingga menimbulkan kesan yang mendalam yang tak mudah dipahami. Kekuatan lainnya puisi ini adalah menggunakan rima yang teratur dibandingkan karya puisinya yang lain.

Puisi ini terdiri dari tiga bait dimana masing-masingnya terdiri dari empat baris yang berima teratur. Bait pertama menunjukkan metafora episode kehidupannya dirasa akan berakhir tak lama lagi. Dia metaforakan dirinya bagai cemara tinggi yang merapuh karena dahannya banyak yang jatuh ditiup angin. Dan akhir kehidupannya diibaratkan malam yang akan menjelang.

Pada bait kedua, dia menceritakan bagaimana dia mencoba menerima kesengsaraan hidup dengan mencoba bertahan. Dia tak lagi seperti saat kanak-kanak yang tak mau mengalah karena tingginya ego diri yang dulu dibanggakan.

Pada bait ketiga, Chairil Anwar mencoba merangkum kisah hidupnya yang mengisyaratkan penuhnya kesengsaraan hingga akhir hayat yang membuat dia menyatakan Hidup hanya menunda kekalahan. Dia merasa terasing dari kehidupannya karena tidak ada cinta dari orang terdekatnya. Dia seakan menyimpan banyak hal yang sebetulnya ingin diungkapkan namun akhirnya kematian lebih dulu datang.

Karena puisi ini dibuat sesuai dengan isi hati Chairil Anwar menjelang dia meninggal, pembaca seakan-akan dibawa pada pedihnya kesengsaraan yang dialam sang sastrawan. Terasa sekali gelapnya puisi ini yang menyadarkan pembaca bahwa segala yang bernyawa akan mati pada saat waktu yang ditentukan. Meskipun demikian, tetap semangat jalani hidup dan tidak cepat putus asa.

#demi PR anak gadis
#yg punya PR siapa, yg kerjakan siapa 😑