Bosan sebenarnya ku bahas kau Dilan Tapi ini soal AlGojo-mu yang bertebaran di jalan Semua tahu kau setan jalanan Tak perlulah ada AlGojomu yang penuhi jalan Ini makin tunjukkan kau tak jantan Yang beraninya keroyokan Panglima harusnya maju terdepan Eh.. malah AlGojomu yang lempar selebaran Tebar cerita hebatnya rayuan memabukkan Yang buat Milea terlena dalam buaian Cepat terbangunlah dari tidurmu Dilan Cukup satu Milea saja digenggaman Tak perlulah kau jadi Don Juan Karena tak akan kuat kau berjalan Bilang AlGojo-mu tuk menyingkir dari jalan Jangan lagi tebar kebohongan Ingat sebentar lagi ramadhan Mending banyakin baca qur'an #tetapgantidilanaja #bukangantipresiden
Kamis, 10 Mei 2018
DIlan & AlGojo
Ramai karena Qur'an
Tiba-tiba Nawa pindah dr kamarnya ke kamar ayahnya sambil manyun, " Ayah.... itu tuh Mey gangguin aku jadi gak bisa konsen menghafal..."😒 "Emang Mey gangguin apa? Emang kamu lagi hafalin apa?", tanya saya. Setelah agak reda manyunnya, baru Nawa mulai bicara, "Mey tuh baca Qur'an kenceng2 di kamar... aku kan jadi gak konsen hafalin surat Ar-Rahman..." Sebelum mamanya ikutan komentar, saya cukup bilang, "Udah gak papa, kamu istighfar ya..." sembari elus rambutnya. Buat saya, ini berantem kakak-adik yg paling membahagiakan. Syukur Alhamdulillah karena anak2 berantem untuk kebaikan. Meramaikan rumah dengan bacaan Qur'an, berlomba untuk segera khatam, bersaing banyaknya hafalan surat, saling mengingatkan untuk baca Qur'an tiap hari meski cuma 1-2 ain, atau sekedar rebutan ambil mushaf kesayangan. Rumah jadi lebih nyaman karena tak pernah sepi dari indahnya bacaan Qur'an. Mudah2an kelak mereka nanti terus berlomba untuk kebaikan yang jauh lebih besar dan bermanfaat. Kebaikan yang sejatinya orang tuanya lah yang paling banyak dapat manfaatnya. Insya Allah.... Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan... (Al Baqarah : 148)
Rabu, 11 April 2018
Kukira Umar... ternyata Dilan
Uang ditebar berlagak bak Umar
Aih... ternyata dia Dilan sang panglima jalanan
Kupikir dia diam bersabar.... taunya tebar pesona di jalan
Milea..... kenapa dengan Dilanmu?
Tak cukupkah sekali saja Dia merayumu?
Kuharap Kau tetap tegar, mungkin dia butuh udara segar
Sesekali pengen jajan dan beli cemilan
Lihat sekarang dia merajukmu
Dipakainya kaos bertulis janji setia
Janji tahun depan tak lagi bengal demi kamu
"Cukup Satu Milea..." katanya
Tetap jaga Dilanmu Milea...
Pegang terus janjinya...
Meski entah tahun depan apa lagi janjinya...
Karena yang paham Dilan cuma kamu, yang lain tidak
#BukanGantiPresiden
#GantiDilanAja
Aih... ternyata dia Dilan sang panglima jalanan
Kupikir dia diam bersabar.... taunya tebar pesona di jalan
Milea..... kenapa dengan Dilanmu?
Tak cukupkah sekali saja Dia merayumu?
Kuharap Kau tetap tegar, mungkin dia butuh udara segar
Sesekali pengen jajan dan beli cemilan
Lihat sekarang dia merajukmu
Dipakainya kaos bertulis janji setia
Janji tahun depan tak lagi bengal demi kamu
"Cukup Satu Milea..." katanya
Tetap jaga Dilanmu Milea...
Pegang terus janjinya...
Meski entah tahun depan apa lagi janjinya...
Karena yang paham Dilan cuma kamu, yang lain tidak
#BukanGantiPresiden
#GantiDilanAja
Taman Laut
Lihatlah itu ikan-ikan yang berenang Berkejaran diantara terumbu karang Di hamparan pantai berombak tenang Yang disirami mentari bersinar terang Taman lautku indah memesona Senang hatiku melihatnya Beraneka ragam ikan berada disana Karena lestari terumbu karangnya Indonesia negeri lautan Taman lautnya banyak tak terbilang Dari Raja Ampat, Bunaken hingga Derawan Kita jaga agar kelak cerita indahnya tak hilang
Polusi
Sulit rasanya kuhirup segarnya udara Karena udara yg terpolusi jelaga Jutaan kendaraan penuhi jalan raya Pekat asapnya sesakkan dada Di pinggir kota ratusan pabrik merajalela Muntahkan ke sungai limbah berbahaya Sembur asap hitam membumbung angkasa Tak peduli lagi lingkungan sekitarnya Mari kawan kita perbaiki semua Tuk kurangi kendaraan di jalan raya Gunakan saja angkutan kota Tinggalkan motor, mulai kayuh sepeda Bersihnya sungai kita jaga bersama Tak boleh lagi limbah dibuang disana Tanamlah pohon tuk sejukkan udara Kurangi polusi agar sehat badan kita
Selasa, 13 Februari 2018
Spaghetti Rasa Mie Rebus Telor
Seperti biasa, setiap hari minggu kami memasak sendiri di
rumah. Untuk hari
minggu kemarin, Mama sudah rencanakan untuk memasak Spaghetti Carbonara.
Kebetulan ada saudara datang berkunjung, kali ini porsi memasaknya ditambah. Sebelumnya, Mama gak pernah pernah buat Spaghetti Carbonara untuk keluarga.
Setelah mencari resepnya di Google, sehari sebelumnya kami siapkan
bahan-bahannya.
Sesuai petunjuk resep di internet, bahan-bahannya adalah
Spaghetti, susu cair, margarin, keju, bawang bombay, bawang putih, bubuk
maizena, irisan tipis daging sapi, dan telor. Kami siapkan semua bahan-bahannya
sesuai resep. Mulailah kami memasak bersama menjelang jam makan siang. Untuk
memasaknya, kami semua berbagi tugas.
Pertama, Kakak Nawa yang rebus spaghettinya. Sembari
menunggu, bawang Bombay dan bawang putih dikupas dan dipotong kecil oleh Mama.
Tidak lupa Mey yang potong memanjang irisan daging sapi. Farrel yang
potong-potong kejunya dan Ayah yang aduk-aduk telornya. Setelah selesai, kami panaskan wajan dengan margarine,
kemudian kami tumis sebentar bawang dan irisan daging bersamaan. Setelah
berubah warna, dituangkan susu, irisan keju, dan yang terakhir adukan telor. Setelah
semua tercampur rata, akhirnya saus spaghetti siap. Berikutnya tinggal
meniriskan rebusan spaghetti untuk disajikan di piring.
Minggu, 28 Januari 2018
Derai Derai Cemara (Sinopsis Puisi Charil Anwar)
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Karya Chairil Anwar
Bila menilik kehidupan Chairil Anwar, puisi Derai Derai Cemara ini dibuatnya saat Sastrawan itu sakit menjelang kematiannya. Chairil Anwar meninggal saat berumur 27 tahun karena menderita TBC. Saat itu hidupnya tengah dirundung masalah karena sang istri meninggalkannya dan meminta cerai saat anaknya baru berumur 7 bulan.
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Karya Chairil Anwar
Bila menilik kehidupan Chairil Anwar, puisi Derai Derai Cemara ini dibuatnya saat Sastrawan itu sakit menjelang kematiannya. Chairil Anwar meninggal saat berumur 27 tahun karena menderita TBC. Saat itu hidupnya tengah dirundung masalah karena sang istri meninggalkannya dan meminta cerai saat anaknya baru berumur 7 bulan.
Puisi ini menunjukkan kegundahan
dan kegelisahan hidup Chairil Anwar yang merasa waktunya di dunia tidak lama
lagi. Pilihan kata-kata dalam puisi sederhana, namun tak biasa digunakan orang
awam sehingga menimbulkan kesan yang mendalam yang tak mudah dipahami. Kekuatan
lainnya puisi ini adalah menggunakan rima yang teratur dibandingkan karya
puisinya yang lain.
Puisi ini terdiri dari tiga bait dimana
masing-masingnya terdiri dari empat baris yang berima teratur. Bait pertama
menunjukkan metafora episode kehidupannya dirasa akan berakhir tak lama lagi.
Dia metaforakan dirinya bagai cemara tinggi yang merapuh karena dahannya banyak
yang jatuh ditiup angin. Dan akhir kehidupannya diibaratkan malam yang akan
menjelang.
Pada bait kedua, dia menceritakan
bagaimana dia mencoba menerima kesengsaraan hidup dengan mencoba bertahan. Dia
tak lagi seperti saat kanak-kanak yang tak mau mengalah karena tingginya ego
diri yang dulu dibanggakan.
Pada bait ketiga, Chairil Anwar
mencoba merangkum kisah hidupnya yang mengisyaratkan penuhnya kesengsaraan
hingga akhir hayat yang membuat dia menyatakan Hidup hanya menunda kekalahan.
Dia merasa terasing dari kehidupannya karena tidak ada cinta dari orang
terdekatnya. Dia seakan menyimpan banyak hal yang sebetulnya ingin diungkapkan
namun akhirnya kematian lebih dulu datang.
Karena puisi ini dibuat sesuai
dengan isi hati Chairil Anwar menjelang dia meninggal, pembaca seakan-akan
dibawa pada pedihnya kesengsaraan yang dialam sang sastrawan. Terasa sekali
gelapnya puisi ini yang menyadarkan pembaca bahwa segala yang bernyawa akan
mati pada saat waktu yang ditentukan. Meskipun demikian, tetap semangat jalani
hidup dan tidak cepat putus asa.
#demi PR anak gadis
#yg punya PR siapa, yg kerjakan siapa 😑
#yg punya PR siapa, yg kerjakan siapa 😑
Langganan:
Postingan (Atom)
