Rabu, 23 Januari 2019

Jangan Bilang Kau Tak Pernah Keluar Uang Untuk Sekolahmu

Nak, kalau suatu saat nanti kau sudah jadi Sarjana....
Jangan pernah merasa hebat karena tak pernah keluar uang untuk sekolahmu
Jangan pula sebarkan ucap tak pernah sepeser pun uang keluar dari kantongmu
Meski itu benar adanya memang kau tak pernah keluar uang untuk sekolahmu

Tak keluarnya uangmu bukan karena kau pintar Nak....
Tak keluarnya uangmu bukan berarti sekolahmu gratis
Utuhnya uangmu tidak pula karena beasiswa yang kau dapat Nak...
Utuhnya uangmu tak berarti sekolah tak butuh uang

Kau benar tak pernah keluar uang, tapi yang keluarkan uang itu Bapak-Ibumu Nak
Uang Pendaftaran, Uang Gedung, Uang SPP sampai Uang Saku itu semua dari orang tuamu
Belum lagi Uang Buku, Uang Sepatu, Uang Seragam, sampai Uang Daftar Ulang....

Kalo untuk Uang Bangku... kau tak perlu tahu lah Nak...
Kau benar tak pernah keluar uang karena memang kau tak punya uang untuk sekolah Nak....


Kalo suatu hari kau lihat Bapak atau Ibumu ingin sekolah lagi, Jangan pernah kau bilang,

“Aku dulu waktu sekolah tak pernah keluar uang, tak bayar sepeserpun. Seharusnya sekolah ya seperti ini, mudah & murah seperti yang dulu aku lakukan!”
Kalau sampai kau tega hati keluar ucapan macam itu Nak.... mendekat sini biar kau telan sendal Bapakmu!!! J


Minggu, 13 Januari 2019

Saya Alumni UI, Saya Dukung Persija

"Saya Alumni UI, Saya Dukung Persija!"

Berasa aneh dan memaksakan diri rasanya kalau saya harus bilang begitu. Gak perlu teriak-teriak kasih tahu ke semua orang rasanya kalau saya memang alumni UI.
Tinggal lihat aja di lembar ijazah atau cek sendiri di daftar nama alumni di kampus UI sana.

Terus apa hubungannya ama Persija? Ya emang gak ada hubungannya. Kalau mau dukung mah ya dukung aja. Persija juga gak butuh saya alumni UI atau bukan. Persija mah butuh saya datang ke stadion kasih dukungan.
Alumni UI kan gak semuanya dukung Persija. Ada yg dukung klub besar macam Persib, PSIS, Persebaya, PSM, Persipura. Ada juga yg dukung klub kecil macam Persikabo atau Persipasi.

Lha emang gak boleh alumni UI dukung Persija? Ya boleh aja, tapi kok seakan-akan menafikkan alumni UI yang lain ya? Emangnya saya siapa waktu di UI dulu?

Tapi kan saya alumni UI yang mewakili diri sendiri untuk dukung Persija? Ya kalo mewakili diri sendiri, kenapa saya gak bangga dengan bilang:
"SAYA BAPAKNYA ALE, SAYA DUKUNG PERSIJA!!"
berasa lebih militan kan?

#maaf Persebaya, but deep inside my heart, you're still the one & only#

Selasa, 08 Januari 2019

Benci dosanya, Cintai Amalan Surganya

Pernah dengar kisah pembunuh 100 jiwa yg dijamin masuk surga?
Pernah juga baca kisah pelacur yg mendapatkan surga?

Jangan salah dipahami, bukan karena lelaki itu membunuh atau perempuan itu melacur yang membuatnya masuk surga. Tapi tekad kuat untuk taubat dan satu langkah menuju kebaikan yang membuatnya menuju surga.

Langkah kaki yang lebih dekat ke taubat yang membuatnya selangkah menjauhi tempat berbuat dosa lah yang membuat para malaikat akhirnya bersepakat mengganjarnya dengan surga.
Pengorbanan di akhir hidup dengan seteguk air yang diberikan ke seekor anjing lah yang menariknya ke surga.

Tapi bila dimungkinkan hidup bisa diulangi atau sedikit diperpanjang, lelaki dan perempuan itu sungguh tak mau lakukan dosa membunuh atau melacur. Mereka akan sangat benci dosanya, dan bersegera lakukan taubat untuk perbanyak amal kebaikan.

Bila langkah kecil menuju baik dan secuil pengorbanan diganjar surga, apa mungkin mereka lakukan dosa lagi bila diberi waktu hidup lebih lama?
Bila tahu mereka akan diganjar surga dan diberi kesempatan mengulangi hidup, apa iya mereka lakukan kembali dosa sepanjang hidup dan baru bertaubat menjelang kematian?

Bila pendosa saja benci dengan dosanya, tak mungkin kita malah membiarkan dosa itu tetap ada.
Bila pendosa saja menyesali dosanya, tak perlulah kita hujat dan kutuk pelakunya.
Tak perlu pula menggunjingnya yang malah akan membuat pelakunya bangga dengan dosa dan terlambat bertaubat.
Benci saja dosanya, tapi bukan pelakunya.
Benci saja dosanya, dan tanamkan benci itu pada diri agar kita tak lakukan dosa yang sama.

Bagi yang lama tenggelam dalam dosa, berhijrahlah segera untuk menjadi baik. Karena jatah umur tak menunggu taubatmu.
Bila yang sudah berhijrah, tetaplah istiqamah-lah dalam kebaikan. Sungguh telah banyak yang tak sanggup bersabar dengan ke-istiqamahannya. Bencilah dengan kemungkaran bukan pelaku kemungkarannya.

Bila melihat suatu kemungkaran, ada tiga pilihan yang bisa dilakukan. Beranguslah dengan tindakan, nasehatilah dengan lisan, atau bencilah dengan hati. Dan pilihan terakhir itulah selemah-lemah iman.

Tegakkan hukum atas dosa, agar orang lain tak berbuat dosa yang sama. Nasehati pelakunya dengan santun dan baik. Sebaik-baik pemberian nasehat adalah saat tak ada orang lain yang tahu selain pemberi nasehat dan pelakunya. Do'akan berubah jadi baik dan bencilah dosanya agar diri kita terjaga dari dosa yang sama.

Ini perkara menegakkan kebenaran dan menolak kemungkaran, bukan perkara apakah kita telah lebih baik dari pelaku dosa itu. Jaminan surga itu hak Allah sepenuhnya, tugas kita hanyalah penyampai kebaikan.

Sesungguhnya yang membawa kita ke surga adalah tekad untuk taubat, berhijrah untuk lebih baik, dan masih adanya waktu di sisa umur untuk berbuat baik.

-Tetaplah saling menasehati dalam kebaikan-

 Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (Al-Hujurat : 12)

Dan  orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah : 71)

Senin, 03 Desember 2018

Aku Melu 212

"Aku melu ke monas 212 ya...", pinta Oma penuh harap ke anaknya
Akhirnya ghirah itu terluapkan. Semangat yang selama ini hanya meletup-letup setiap ada aksi bela Islam.

"Yakin Oma mau ikutan?"
"Kita naik kereta lho berdesakan?"
"Ntar Oma capek jalan kaki agak jauh lho..."
Sejak seminggu lalu kami anaknya memang gak berniat untuk ajak reuni 212 mengingat umur Oma yang sudah menginjak 76, dan akan ada acara arisan keluarga minggu siang yg juga penting.

Ah, ternyata Oma sudah punya rencananya sendiri. Sabtu malam gak bisa tidur terlalu nyenyak karena takut keduluan ditinggal pergi anaknya. Bangun jam 2 pagi, setelah tahajud setel TV lihat berita monas sudah terisi penuh sejak sebelum subuh.

"Aku ikut ke monas ya... insya Allah kuat", diulangi-nya permintaan itu yg meluluhkan anaknya.
"Yang dari luar negeri aja ikutan, masa aku gak ikutan..."
Kata-kata ini yang meyakinkan semangat itu memang sudah meluap.

Benar ternyata gak pernah salah ngajak emak-emak apalagi yg sudah sepuh. Insya Allah akan banyak rizqi yang melimpah. Meski hanya bawa bekal seadanya, ternyata sesampai di stasiun jurangmangu ada yg langsung beri 3 kotak jajanan begitu lihat Oma.
Dilanjut di stasiun Tanah Abang ada yg tawarkan Roti dan Panada. Memang udah naluri emak, diambilnya bukan 1 biji, tapi 5 Roti & 5 Panada buat tambahan bekal anaknya. Belum lagi banyak banget yg bagikan minuman. Lha wong kalo beli makanan aja selalu ambil lebih dari 1, apalagi ini yg gratisan...🤣

Reuni 212 kali ini justru Oma yg luar biasa semangat. Naik-turun tangga stasiun, disuruh naik angkat malah pengennya jalan kaki, diminta istirahat kalo pegel tapi tetap terus jalan, sampai akhirnya terhenti langkah di gedung BI sebelum bundaran Indosat karena penuhnya manusia.
"Oma... istirahat dulu ya...", pinta saya
"Dilanjut aja, belum kelihatan monasnya... aku belum capek...", Oma menyahut tetap semangat.
"Bukan Oma yang capek... tapi kita..." 😭😭
 
Lautan manusia yg berdesakan menuju monas akhirnya memaksa kita kembali pulang menembus arus. Jujur sempat kuatir dengan kekuatan fisik Oma karena beberapa kali lihat ada yang pingsan, orang2 keringatan tahan terik matahari, sampai anak2 yg nangis karena kepanasan. Eh... malah Omanya tetap sehat segar bugar meski sulit jalan menerobos arus.

Istirahat sejenak di Budi Kemuliaan, ada lagi yang tawarin Oma nasi bakar dan diambilnya lagi 5 buah, yang lagi-lagi dibagi buat anak2nya.

Buat kami, reuni 212 tahun ini lebih bermakna dibanding tahun lalu. Oma buktikan ghirah itu tetap menyala. Tak perlu berdebat soal tingkat keimanan. Ikut 212 juga bukan ajang mengecilkan arti iman saudara sebangsa yang tak bergabung atau tak sejalan. Ini sekedar buktikan iman di hati masih ada dengan bersatunya umat di monas. Sama sederhananya dengan singkirkan duri kecil yang juga bentuk masih adanya iman.

Tak apalah dianggap buih. Lautan buih toh mengandung air yang sanggup padamkan api.
Bila kami yang muda tak mampu padamkan api di hatimu, biarlah semangat Oma yang peluk hatimu dengan cinta... 😘😗😙
 
 

Rabu, 31 Oktober 2018

Gelorakan Semangatmu

Buka matamu, tatap tantangan di depanmu
Tajamkan telingamu, dengarkan teriakan semangat itu
Teguhkan hatimu, hadapi rintangan yang menghadang
Bulatkan tekadmu, kini saatnya untuk melangkah maju
Gelorakan semangatmu, tunjukkan kita mampu bersatu

Kita generasi bangsa yang siap raih cita-cita
Iman dan Ilmu jadi modal utama
Maju melesat menjadi bintang
Bersama kita guncang dunia
Tunjukkan hebatnya Indonesia

Jangan pernah siakan waktu
Bangkitkan energi tuk siap maju
Berikan yang terbaik pada upayamu
Mantapkan langkah jangan pernah ragu
Karena Allah akan selalu menjagamu

Tetap tegarlah berdiri
Jiwa mudamu penuh inovasi
Kau akan terbang tinggi
Bagai Garuda yg perkasa lintasi bumi
Namun tetap berpijak dengan rendah hati

Minggu, 30 September 2018

Sampaikan Pesan itu ke Hatimu


Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.
Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?"
Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) padanya. (QS. Al-Zalzalah : 1-5)

Sudah sampai kah pesan itu kepadamu kawan?
Segera masukkan ke hatimu agar kau paham maknanya
Bencana itu hadir tak hanya untukmu, tapi buat kita semua

Tak peduli kau bertakwa atau pendosa
Tak peduli kau baik atau jahat
Tak peduli kau jujur atau dusta
Tak peduli kau amanah atau khianat
Tak peduli kau rendah hati atau berbangga diri
Bencana itu tetap datang menghempas...

Tak peduli kau pengejar akhirat atau pendamba dunia
Tak peduli kau pencinta Allah atau pemuja makhluk
Tak peduli kau diam menahan diri atau membual kebohongan
Tak peduli kau pemberi kebaikan atau pembuat kerusakan
Tak peduli kau penyemai damai atau penyebar fitnah
Bencana itu tetap akan menghampiri...

Tak peduli kau berbaik atau berburuk sangka
Tak peduli kau ringan bersedekah atau bakhil bertumpuk harta
Tak peduli kau jiwa yang tenang atau selalu gundah
Tak peduli kau hati yang teduh atau penuh keluh

Tak peduli kau penampil sederhana atau pesolek kemewahan 
Bencana datang tak pedulikan siapapun....

Karena setiap bencana sudah ditentukan waktunya
Yang membedakan adalah kesudahannya, menjadi rahmat kebaikan atau azhab kebinasaan

Semua keburukan akan mengundang azhab berikutnya yg tak terperi
Semua kebaikan akan mendatangkan rahmat yg berlimpah

Saat bencana, Allah tunjukkan seperti apa kita sebenarnya
Bersabarlah dan berbaik sangkalah atas ketetapan Allah
Biarkan bencana ini menjadi pengingat betapa kecilnya dan tak berdayanya kita
Pengingat tak selamanya kita di dunia dan akan tinggalkan apapun yg ada didalamnya

Seburuk apapun kita di masa lalu, berubahlah menuju kebaikan

Selagi masih ada waktu sebelum ajal menjelang
Selagi masih bisa memilih untuk menjadi akhir yang baik atau akhir yang buruk
Karena pesan bencana itu tak hanya untuk kalian saja yang tertimpa musibah, tapi juga untuk kita semua yang merasa aman terhindar dari maut yang mengancam.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al-Hadid : 22)
Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar ( kesalahan-kesalahanmu) (QS. Asy-Syuura : 30)

Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?
Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku (QS. Al-Mulk : 16-17)

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu (QS. Al-'An'am: 17)

Rabu, 20 Juni 2018

Saat Ramadhan berakhir

Saat Ramadhan berakhir..., jangan padamkan semangatnya Nak
Teruslah baca Qur'anmu
Tetap ringankan kakimu ke masjid
Mudahkan tanganmu untuk beri kebaikan
Awal waktu selalu shalatmu
Perbanyak hafalan suratmu
Jaga terus bersih lisanmu

Kau boleh bergembira hari ini, tapi tetap teruskan semangat ramadhanmu
Kau boleh rayakan hari yg fitri ini, untuk bersiap kembali kejar indahnya iman

Bila kau rasa lelah, istirahatlah sejenak karena tak selamanya harus kencang berlari
Bila tak mampu berlari, berjalanlah
Bila tak mampu berjalan, berdiamlah sejenak
Isi kembali energimu, tuk kembali maju ke depan

Jangan kau berubah haluan atau mundur ke belakang
Ada Ayah disampingmu yang akan temanimu melangkah

Karena sesungguhnya Ayahlah yang sedang berjuang menuju kebaikan
Dan kau bersamaku agar Ayah tak merasa sendiri berjalan