Senin, 25 Maret 2019

Semar vs Gatotkaca

Seorang Semar tak perlu bergerak aktif basmi kejahatan dan bereskan carut marut negeri. Seorang Gatotkaca pun tak perlu susah payah jadi simbol indahnya moral rakyat dan pemberi nasehat terbaik.

Dalam panggung wayang, sosok Gatotkaca-lah yang ditunggu aksi laganya. Semar hadir di sela kekosongan saat Gatotkaca lelah hadapi lawan. Sesekali Semar juga tampil menghibur untuk imbangi lawakan Petruk yang garing tak lucu.Semar hadir bukan untuk jadi lawan Gatotkaca, tapi menjadi penguat mental. Tak perlu Semar dan Gatotkaca berganti peran karena masing-masing sudah sesuai porsinya.

Gatotkaca tak bisa berjuang sendiri. Bima ada dibelakangnya karena hanya seorang ayah yang paham bagaimana membentuk Gatotkaca.

Saat hidup negri wayang terasa monoton dan membosankan, Petruk dan Semar bisa hadir bawa kesegaran. Tapi saat negri wayang terasa sesak, butuh Bima dan Gatotkaca untuk tampil benahi negri.
#cumaceritanegriwayang

Rabu, 06 Februari 2019

Dagelan Terlarang


Dagelan itu tak lebih dari cara kita tertawakan diri sendiri

Tertawakan kebodohan, kebohongan dan kepandiran kita sendiri

Mengkomedikan kejadian yang sebenarnya sama sekali tidak lucu

Dagelan itu membuat yang serius menjadi sekedar main-main belaka



Ndagel itu gak boleh kebanyakan, gak boleh monoton

Kebanyakan nonton dagelan juga akan buat muak

Lihat dagelan yang itu-itu aja ya bakalan buat bosen

Apalagi kalo pemain dagelannya orangnya itu-itu juga



Coba sampeyan bayangkan kalo seharian nonton dagelan terus

Yang ditonton Srimulat dari pagi sampe sore

dan cuma si Gepeng bintang utamanya

Piye jal rasane? Pasti bikin kebelet pipis kalo kelamaan duduk



Eh.. udah muak dan bosen kok malah dilarang lihat dagelan lain.

Apalagi kalo itu produk dagelan impor macam standup comedy atau slapstick

Katanya dagelan impor itu banyak hoaks & penuh dusta.

Dagelan lokal lebih lucu dan apa adanya katanya.



Trus sampeyan pilih yang mana?

Kalo saya sih mending pilih gak nonton dagelan.

Kata ustadz, kebanyakan dagelan bakal mematikan hati.

Saya mending pilih banyak berdoa aja karena gak bakalan salah baca

Kalopun salah... kan ada Gepeng yang bakal revisi doanya

sambil nyengir bilang, “Untung ada saya....” J

Kamis, 31 Januari 2019

Gajimu dari mana?

Kalo ditanya gaji yang kita terima dari mana, ya jawab aja itu kita terima dari hasil kerja.
Gaji ya kita terima dari perusahaan dan harus diakui memang jalannya dari sana.
Gak perlu lah kita bilang gaji itu dari Allah. Kalo dari Allah itu mah rizqi, bukan gaji.. 😛
Karena kita pekerja, jadi santai aja menyikapi kenyataan ini
Tapi kok rasanya jadi mangkel ya kalo yang tanya itu Bos kita sendiri...
Sini ya Bos kita bilangin pelan-pelan karena sampeyan kan juga gajian.
Uang bulanan yang sampeyan terima kan sumbernya sama dari yang kita terima.
Iya bener sih gaji kita terima dari perusahaan, tapi kan itu dari hasil jualan kita bareng-bareng.
Jadi yang bayarin gaji kita itu pelanggan.

Lha emang kalo hasil jualan gak cukup buat bayar gaji, trus darimana uangnya?
Ya Bos pasti tahulah dari mana.... kan kemarin baru ambil hutang.
Makanya Bos cepet-cepet cari kaca biar tahu diri.
Kalo Bos mau tetep jadi Bos-nya kita, baik-baiklah ama anak buah.
Kalo kita pengen dapat Bos baru yang lebih baik, gak perlu lah nyindir-nyindir nanya gaji dari mana.

Ntar kalo Bos dah resign, emang yang bayar hutang siapa? Emang situ? Kan kita-kita juga yang bayar....

J
#yggajikamusiapa













Rabu, 23 Januari 2019

Jangan Bilang Kau Tak Pernah Keluar Uang Untuk Sekolahmu

Nak, kalau suatu saat nanti kau sudah jadi Sarjana....
Jangan pernah merasa hebat karena tak pernah keluar uang untuk sekolahmu
Jangan pula sebarkan ucap tak pernah sepeser pun uang keluar dari kantongmu
Meski itu benar adanya memang kau tak pernah keluar uang untuk sekolahmu

Tak keluarnya uangmu bukan karena kau pintar Nak....
Tak keluarnya uangmu bukan berarti sekolahmu gratis
Utuhnya uangmu tidak pula karena beasiswa yang kau dapat Nak...
Utuhnya uangmu tak berarti sekolah tak butuh uang

Kau benar tak pernah keluar uang, tapi yang keluarkan uang itu Bapak-Ibumu Nak
Uang Pendaftaran, Uang Gedung, Uang SPP sampai Uang Saku itu semua dari orang tuamu
Belum lagi Uang Buku, Uang Sepatu, Uang Seragam, sampai Uang Daftar Ulang....

Kalo untuk Uang Bangku... kau tak perlu tahu lah Nak...
Kau benar tak pernah keluar uang karena memang kau tak punya uang untuk sekolah Nak....


Kalo suatu hari kau lihat Bapak atau Ibumu ingin sekolah lagi, Jangan pernah kau bilang,

“Aku dulu waktu sekolah tak pernah keluar uang, tak bayar sepeserpun. Seharusnya sekolah ya seperti ini, mudah & murah seperti yang dulu aku lakukan!”
Kalau sampai kau tega hati keluar ucapan macam itu Nak.... mendekat sini biar kau telan sendal Bapakmu!!! J


Minggu, 13 Januari 2019

Saya Alumni UI, Saya Dukung Persija

"Saya Alumni UI, Saya Dukung Persija!"

Berasa aneh dan memaksakan diri rasanya kalau saya harus bilang begitu. Gak perlu teriak-teriak kasih tahu ke semua orang rasanya kalau saya memang alumni UI.
Tinggal lihat aja di lembar ijazah atau cek sendiri di daftar nama alumni di kampus UI sana.

Terus apa hubungannya ama Persija? Ya emang gak ada hubungannya. Kalau mau dukung mah ya dukung aja. Persija juga gak butuh saya alumni UI atau bukan. Persija mah butuh saya datang ke stadion kasih dukungan.
Alumni UI kan gak semuanya dukung Persija. Ada yg dukung klub besar macam Persib, PSIS, Persebaya, PSM, Persipura. Ada juga yg dukung klub kecil macam Persikabo atau Persipasi.

Lha emang gak boleh alumni UI dukung Persija? Ya boleh aja, tapi kok seakan-akan menafikkan alumni UI yang lain ya? Emangnya saya siapa waktu di UI dulu?

Tapi kan saya alumni UI yang mewakili diri sendiri untuk dukung Persija? Ya kalo mewakili diri sendiri, kenapa saya gak bangga dengan bilang:
"SAYA BAPAKNYA ALE, SAYA DUKUNG PERSIJA!!"
berasa lebih militan kan?

#maaf Persebaya, but deep inside my heart, you're still the one & only#

Selasa, 08 Januari 2019

Benci dosanya, Cintai Amalan Surganya

Pernah dengar kisah pembunuh 100 jiwa yg dijamin masuk surga?
Pernah juga baca kisah pelacur yg mendapatkan surga?

Jangan salah dipahami, bukan karena lelaki itu membunuh atau perempuan itu melacur yang membuatnya masuk surga. Tapi tekad kuat untuk taubat dan satu langkah menuju kebaikan yang membuatnya menuju surga.

Langkah kaki yang lebih dekat ke taubat yang membuatnya selangkah menjauhi tempat berbuat dosa lah yang membuat para malaikat akhirnya bersepakat mengganjarnya dengan surga.
Pengorbanan di akhir hidup dengan seteguk air yang diberikan ke seekor anjing lah yang menariknya ke surga.

Tapi bila dimungkinkan hidup bisa diulangi atau sedikit diperpanjang, lelaki dan perempuan itu sungguh tak mau lakukan dosa membunuh atau melacur. Mereka akan sangat benci dosanya, dan bersegera lakukan taubat untuk perbanyak amal kebaikan.

Bila langkah kecil menuju baik dan secuil pengorbanan diganjar surga, apa mungkin mereka lakukan dosa lagi bila diberi waktu hidup lebih lama?
Bila tahu mereka akan diganjar surga dan diberi kesempatan mengulangi hidup, apa iya mereka lakukan kembali dosa sepanjang hidup dan baru bertaubat menjelang kematian?

Bila pendosa saja benci dengan dosanya, tak mungkin kita malah membiarkan dosa itu tetap ada.
Bila pendosa saja menyesali dosanya, tak perlulah kita hujat dan kutuk pelakunya.
Tak perlu pula menggunjingnya yang malah akan membuat pelakunya bangga dengan dosa dan terlambat bertaubat.
Benci saja dosanya, tapi bukan pelakunya.
Benci saja dosanya, dan tanamkan benci itu pada diri agar kita tak lakukan dosa yang sama.

Bagi yang lama tenggelam dalam dosa, berhijrahlah segera untuk menjadi baik. Karena jatah umur tak menunggu taubatmu.
Bila yang sudah berhijrah, tetaplah istiqamah-lah dalam kebaikan. Sungguh telah banyak yang tak sanggup bersabar dengan ke-istiqamahannya. Bencilah dengan kemungkaran bukan pelaku kemungkarannya.

Bila melihat suatu kemungkaran, ada tiga pilihan yang bisa dilakukan. Beranguslah dengan tindakan, nasehatilah dengan lisan, atau bencilah dengan hati. Dan pilihan terakhir itulah selemah-lemah iman.

Tegakkan hukum atas dosa, agar orang lain tak berbuat dosa yang sama. Nasehati pelakunya dengan santun dan baik. Sebaik-baik pemberian nasehat adalah saat tak ada orang lain yang tahu selain pemberi nasehat dan pelakunya. Do'akan berubah jadi baik dan bencilah dosanya agar diri kita terjaga dari dosa yang sama.

Ini perkara menegakkan kebenaran dan menolak kemungkaran, bukan perkara apakah kita telah lebih baik dari pelaku dosa itu. Jaminan surga itu hak Allah sepenuhnya, tugas kita hanyalah penyampai kebaikan.

Sesungguhnya yang membawa kita ke surga adalah tekad untuk taubat, berhijrah untuk lebih baik, dan masih adanya waktu di sisa umur untuk berbuat baik.

-Tetaplah saling menasehati dalam kebaikan-

 Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (Al-Hujurat : 12)

Dan  orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah : 71)

Senin, 03 Desember 2018

Aku Melu 212

"Aku melu ke monas 212 ya...", pinta Oma penuh harap ke anaknya
Akhirnya ghirah itu terluapkan. Semangat yang selama ini hanya meletup-letup setiap ada aksi bela Islam.

"Yakin Oma mau ikutan?"
"Kita naik kereta lho berdesakan?"
"Ntar Oma capek jalan kaki agak jauh lho..."
Sejak seminggu lalu kami anaknya memang gak berniat untuk ajak reuni 212 mengingat umur Oma yang sudah menginjak 76, dan akan ada acara arisan keluarga minggu siang yg juga penting.

Ah, ternyata Oma sudah punya rencananya sendiri. Sabtu malam gak bisa tidur terlalu nyenyak karena takut keduluan ditinggal pergi anaknya. Bangun jam 2 pagi, setelah tahajud setel TV lihat berita monas sudah terisi penuh sejak sebelum subuh.

"Aku ikut ke monas ya... insya Allah kuat", diulangi-nya permintaan itu yg meluluhkan anaknya.
"Yang dari luar negeri aja ikutan, masa aku gak ikutan..."
Kata-kata ini yang meyakinkan semangat itu memang sudah meluap.

Benar ternyata gak pernah salah ngajak emak-emak apalagi yg sudah sepuh. Insya Allah akan banyak rizqi yang melimpah. Meski hanya bawa bekal seadanya, ternyata sesampai di stasiun jurangmangu ada yg langsung beri 3 kotak jajanan begitu lihat Oma.
Dilanjut di stasiun Tanah Abang ada yg tawarkan Roti dan Panada. Memang udah naluri emak, diambilnya bukan 1 biji, tapi 5 Roti & 5 Panada buat tambahan bekal anaknya. Belum lagi banyak banget yg bagikan minuman. Lha wong kalo beli makanan aja selalu ambil lebih dari 1, apalagi ini yg gratisan...🤣

Reuni 212 kali ini justru Oma yg luar biasa semangat. Naik-turun tangga stasiun, disuruh naik angkat malah pengennya jalan kaki, diminta istirahat kalo pegel tapi tetap terus jalan, sampai akhirnya terhenti langkah di gedung BI sebelum bundaran Indosat karena penuhnya manusia.
"Oma... istirahat dulu ya...", pinta saya
"Dilanjut aja, belum kelihatan monasnya... aku belum capek...", Oma menyahut tetap semangat.
"Bukan Oma yang capek... tapi kita..." 😭😭
 
Lautan manusia yg berdesakan menuju monas akhirnya memaksa kita kembali pulang menembus arus. Jujur sempat kuatir dengan kekuatan fisik Oma karena beberapa kali lihat ada yang pingsan, orang2 keringatan tahan terik matahari, sampai anak2 yg nangis karena kepanasan. Eh... malah Omanya tetap sehat segar bugar meski sulit jalan menerobos arus.

Istirahat sejenak di Budi Kemuliaan, ada lagi yang tawarin Oma nasi bakar dan diambilnya lagi 5 buah, yang lagi-lagi dibagi buat anak2nya.

Buat kami, reuni 212 tahun ini lebih bermakna dibanding tahun lalu. Oma buktikan ghirah itu tetap menyala. Tak perlu berdebat soal tingkat keimanan. Ikut 212 juga bukan ajang mengecilkan arti iman saudara sebangsa yang tak bergabung atau tak sejalan. Ini sekedar buktikan iman di hati masih ada dengan bersatunya umat di monas. Sama sederhananya dengan singkirkan duri kecil yang juga bentuk masih adanya iman.

Tak apalah dianggap buih. Lautan buih toh mengandung air yang sanggup padamkan api.
Bila kami yang muda tak mampu padamkan api di hatimu, biarlah semangat Oma yang peluk hatimu dengan cinta... 😘😗😙