Tak perlu repot menentukan siapa sebenarnya penguasa panggung. Petruk
dinanti tampil di panggung karena celotehannya yg menyentil. Sejujurnya
raut Petruk jauh lebih baik terlihat polos dibanding tampak lucu. Tapi
karena riasannya yang penuh bedak dan gincu, jadilah Petruk sosok yang
dinanti untuk menggelitik perut.
Apapun ucapannya membuat riuh
sekeliling panggung, apalagi di bibir panggung ada sekelompok Kurawa
yang dibayar untuk menyoraki tampilan Petruk. Penonton undangan pun
terbawa suasana penuh gelak tawa. Percaya diri Petruk makin meluap
seakan tunjukkan dia-lah raja panggung sebenarnya.
Sejatinya di
ujung panggung-lah raja yang sebenarnya. Dunia wayang ada di
genggamannya selama Petruk tetap ada di panggung. Dia lah yang
menggerakkan Kurawa untuk tetap setia pada setiap pentas Petruk. Sembari
gerakkan cerutunya, Duryodhana nikmati kejayaan di sudut panggung.
Kejayaan yg dia nikmati setidaknya 1 purnama terakhir...
#Petrukrajapanggung
Senin, 25 Maret 2019
Lakon Punokawan
Di panggung, Petruk tak mungkin tampil melawak sendiri. Ada Gareng dan Bagong yang menemani sebelum Semar yang tampil memberi petuah. Ketiganya itu anak Semar, meski bukan anak kandung.
Petruk itu sebenarnya sosok yang tinggi dan tampan. Dia terkenal suka bercanda tapi juga suka kelahi. Karena adu tanding-lah, tubuhnya jadi cacat.
Gareng ini juga sosok yang ganteng dan sakti. Tapi sombongnya yang membuat dia kehilangan keduanya setelah kalah berkelahi. Jadilah dia satria pincang sebelah kaki dan rusak wajahnya.
Keduanya satria tampan tapi saling kelahi, maka jadilah kedua satria itu Petruk dan Gareng. Hanya Petruk yang tahu kelemahan Gareng dan sebaliknya hanya Gareng yang paham rahasia tersembunyi Petruk. Mereka berdua berguru ke Semar sebelum diangkat jadi anak.
Bagong sendiri adalah wujud bayangan dari Semar. Kalo Semar digambarkan sosok sepuh yang dituakan dan tinggi ilmunya, Bagong adalah sosok sebaliknya. Umur Bagong yang paling muda dan dia sosok yang lugu dan terkadang kurang bertata krama karena ilmunya yang kurang.
#KenaliPunokawan
Petruk itu sebenarnya sosok yang tinggi dan tampan. Dia terkenal suka bercanda tapi juga suka kelahi. Karena adu tanding-lah, tubuhnya jadi cacat.
Gareng ini juga sosok yang ganteng dan sakti. Tapi sombongnya yang membuat dia kehilangan keduanya setelah kalah berkelahi. Jadilah dia satria pincang sebelah kaki dan rusak wajahnya.
Keduanya satria tampan tapi saling kelahi, maka jadilah kedua satria itu Petruk dan Gareng. Hanya Petruk yang tahu kelemahan Gareng dan sebaliknya hanya Gareng yang paham rahasia tersembunyi Petruk. Mereka berdua berguru ke Semar sebelum diangkat jadi anak.
Bagong sendiri adalah wujud bayangan dari Semar. Kalo Semar digambarkan sosok sepuh yang dituakan dan tinggi ilmunya, Bagong adalah sosok sebaliknya. Umur Bagong yang paling muda dan dia sosok yang lugu dan terkadang kurang bertata krama karena ilmunya yang kurang.
#KenaliPunokawan
Semar vs Gatotkaca
Seorang Semar tak perlu bergerak aktif basmi kejahatan dan bereskan carut marut negeri. Seorang Gatotkaca pun tak perlu susah payah jadi simbol indahnya moral rakyat dan pemberi nasehat terbaik.
Dalam panggung wayang, sosok Gatotkaca-lah yang ditunggu aksi laganya. Semar hadir di sela kekosongan saat Gatotkaca lelah hadapi lawan. Sesekali Semar juga tampil menghibur untuk imbangi lawakan Petruk yang garing tak lucu.Semar hadir bukan untuk jadi lawan Gatotkaca, tapi menjadi penguat mental. Tak perlu Semar dan Gatotkaca berganti peran karena masing-masing sudah sesuai porsinya.
Gatotkaca tak bisa berjuang sendiri. Bima ada dibelakangnya karena hanya seorang ayah yang paham bagaimana membentuk Gatotkaca.
Saat hidup negri wayang terasa monoton dan membosankan, Petruk dan Semar bisa hadir bawa kesegaran. Tapi saat negri wayang terasa sesak, butuh Bima dan Gatotkaca untuk tampil benahi negri.
#cumaceritanegriwayang
Dalam panggung wayang, sosok Gatotkaca-lah yang ditunggu aksi laganya. Semar hadir di sela kekosongan saat Gatotkaca lelah hadapi lawan. Sesekali Semar juga tampil menghibur untuk imbangi lawakan Petruk yang garing tak lucu.Semar hadir bukan untuk jadi lawan Gatotkaca, tapi menjadi penguat mental. Tak perlu Semar dan Gatotkaca berganti peran karena masing-masing sudah sesuai porsinya.
Gatotkaca tak bisa berjuang sendiri. Bima ada dibelakangnya karena hanya seorang ayah yang paham bagaimana membentuk Gatotkaca.
Saat hidup negri wayang terasa monoton dan membosankan, Petruk dan Semar bisa hadir bawa kesegaran. Tapi saat negri wayang terasa sesak, butuh Bima dan Gatotkaca untuk tampil benahi negri.
#cumaceritanegriwayang
Rabu, 06 Februari 2019
Dagelan Terlarang
Dagelan itu
tak lebih dari cara kita tertawakan diri sendiri
Tertawakan
kebodohan, kebohongan dan kepandiran kita sendiri
Mengkomedikan
kejadian yang sebenarnya sama sekali tidak lucu
Dagelan itu
membuat yang serius menjadi sekedar main-main belaka
Ndagel itu
gak boleh kebanyakan, gak boleh monoton
Kebanyakan
nonton dagelan juga akan buat muak
Lihat
dagelan yang itu-itu aja ya bakalan buat bosen
Apalagi kalo
pemain dagelannya orangnya itu-itu juga
Coba
sampeyan bayangkan kalo seharian nonton dagelan terus
Yang
ditonton Srimulat dari pagi sampe sore
dan cuma si
Gepeng bintang utamanya
Piye jal
rasane? Pasti bikin kebelet pipis kalo kelamaan duduk
Eh.. udah
muak dan bosen kok malah dilarang lihat dagelan lain.
Apalagi kalo
itu produk dagelan impor macam standup comedy atau slapstick
Katanya
dagelan impor itu banyak hoaks & penuh dusta.
Dagelan
lokal lebih lucu dan apa adanya katanya.
Trus
sampeyan pilih yang mana?
Kalo saya
sih mending pilih gak nonton dagelan.
Kata ustadz,
kebanyakan dagelan bakal mematikan hati.
Saya mending
pilih banyak berdoa aja karena gak bakalan salah baca
Kalopun
salah... kan ada Gepeng yang bakal revisi doanya
sambil nyengir
bilang, “Untung ada saya....” J
Kamis, 31 Januari 2019
Gajimu dari mana?
Kalo ditanya gaji yang kita terima dari mana, ya jawab aja
itu kita terima dari hasil kerja.
Gaji ya kita terima dari perusahaan dan harus diakui memang jalannya dari sana.
Gak perlu lah kita bilang gaji itu dari Allah. Kalo dari Allah itu mah rizqi, bukan gaji.. 😛
Sini ya Bos kita bilangin pelan-pelan karena sampeyan kan juga gajian.
Uang bulanan yang sampeyan terima kan sumbernya sama dari yang kita terima.
Iya bener sih gaji kita terima dari perusahaan, tapi kan itu dari hasil jualan kita bareng-bareng.
Jadi yang bayarin gaji kita itu pelanggan.
Lha emang kalo hasil jualan gak cukup buat bayar gaji, trus darimana uangnya?
Ya Bos pasti tahulah dari mana.... kan kemarin baru ambil hutang.
Makanya Bos cepet-cepet cari kaca biar tahu diri.
Kalo Bos mau tetep jadi Bos-nya kita, baik-baiklah ama anak buah.
Kalo kita pengen dapat Bos baru yang lebih baik, gak perlu lah nyindir-nyindir nanya gaji dari mana.
Gaji ya kita terima dari perusahaan dan harus diakui memang jalannya dari sana.
Gak perlu lah kita bilang gaji itu dari Allah. Kalo dari Allah itu mah rizqi, bukan gaji.. 😛
Karena kita pekerja, jadi santai aja menyikapi kenyataan ini
Tapi kok rasanya jadi mangkel ya kalo yang tanya itu Bos
kita sendiri...Sini ya Bos kita bilangin pelan-pelan karena sampeyan kan juga gajian.
Uang bulanan yang sampeyan terima kan sumbernya sama dari yang kita terima.
Iya bener sih gaji kita terima dari perusahaan, tapi kan itu dari hasil jualan kita bareng-bareng.
Jadi yang bayarin gaji kita itu pelanggan.
Lha emang kalo hasil jualan gak cukup buat bayar gaji, trus darimana uangnya?
Ya Bos pasti tahulah dari mana.... kan kemarin baru ambil hutang.
Makanya Bos cepet-cepet cari kaca biar tahu diri.
Kalo Bos mau tetep jadi Bos-nya kita, baik-baiklah ama anak buah.
Kalo kita pengen dapat Bos baru yang lebih baik, gak perlu lah nyindir-nyindir nanya gaji dari mana.
Ntar kalo Bos dah resign, emang yang bayar hutang siapa? Emang
situ? Kan kita-kita juga yang bayar....
J
J
#yggajikamusiapa
Rabu, 23 Januari 2019
Jangan Bilang Kau Tak Pernah Keluar Uang Untuk Sekolahmu
Nak, kalau suatu saat nanti kau sudah jadi Sarjana....
Jangan pernah merasa hebat karena tak pernah keluar uang untuk sekolahmu
Jangan pula sebarkan ucap tak pernah sepeser pun uang keluar dari kantongmu
Meski itu benar adanya memang kau tak pernah keluar uang untuk sekolahmu
Tak keluarnya uangmu bukan karena kau pintar Nak....
Tak keluarnya uangmu bukan berarti sekolahmu gratis
Utuhnya uangmu tidak pula karena beasiswa yang kau dapat Nak...
Utuhnya uangmu tak berarti sekolah tak butuh uang
Kau benar tak pernah keluar uang, tapi yang keluarkan uang itu Bapak-Ibumu Nak
Uang Pendaftaran, Uang Gedung, Uang SPP sampai Uang Saku itu semua dari orang tuamu
Belum lagi Uang Buku, Uang Sepatu, Uang Seragam, sampai Uang Daftar Ulang....
Kalo untuk Uang Bangku... kau tak perlu tahu lah Nak...
Kau benar tak pernah keluar uang karena memang kau tak punya uang untuk sekolah Nak....
Uang Pendaftaran, Uang Gedung, Uang SPP sampai Uang Saku itu semua dari orang tuamu
Belum lagi Uang Buku, Uang Sepatu, Uang Seragam, sampai Uang Daftar Ulang....
Kalo untuk Uang Bangku... kau tak perlu tahu lah Nak...
Kau benar tak pernah keluar uang karena memang kau tak punya uang untuk sekolah Nak....
Kalo suatu hari kau lihat Bapak atau Ibumu ingin sekolah lagi, Jangan pernah kau bilang,
“Aku dulu waktu sekolah tak pernah keluar uang, tak bayar sepeserpun. Seharusnya sekolah ya seperti ini, mudah & murah seperti yang dulu aku lakukan!”
Kalau sampai kau tega hati keluar ucapan macam itu Nak.... mendekat sini biar kau telan sendal Bapakmu!!! J
Minggu, 13 Januari 2019
Saya Alumni UI, Saya Dukung Persija
"Saya Alumni UI, Saya Dukung Persija!"
Berasa aneh dan memaksakan diri rasanya kalau saya harus bilang begitu. Gak perlu teriak-teriak kasih tahu ke semua orang rasanya kalau saya memang alumni UI.
Tinggal lihat aja di lembar ijazah atau cek sendiri di daftar nama alumni di kampus UI sana.
Terus apa hubungannya ama Persija? Ya emang gak ada hubungannya. Kalau mau dukung mah ya dukung aja. Persija juga gak butuh saya alumni UI atau bukan. Persija mah butuh saya datang ke stadion kasih dukungan.
Alumni UI kan gak semuanya dukung Persija. Ada yg dukung klub besar macam Persib, PSIS, Persebaya, PSM, Persipura. Ada juga yg dukung klub kecil macam Persikabo atau Persipasi.
Lha emang gak boleh alumni UI dukung Persija? Ya boleh aja, tapi kok seakan-akan menafikkan alumni UI yang lain ya? Emangnya saya siapa waktu di UI dulu?
Tapi kan saya alumni UI yang mewakili diri sendiri untuk dukung Persija? Ya kalo mewakili diri sendiri, kenapa saya gak bangga dengan bilang:
"SAYA BAPAKNYA ALE, SAYA DUKUNG PERSIJA!!"
berasa lebih militan kan?
#maaf Persebaya, but deep inside my heart, you're still the one & only#
Berasa aneh dan memaksakan diri rasanya kalau saya harus bilang begitu. Gak perlu teriak-teriak kasih tahu ke semua orang rasanya kalau saya memang alumni UI.
Tinggal lihat aja di lembar ijazah atau cek sendiri di daftar nama alumni di kampus UI sana.
Terus apa hubungannya ama Persija? Ya emang gak ada hubungannya. Kalau mau dukung mah ya dukung aja. Persija juga gak butuh saya alumni UI atau bukan. Persija mah butuh saya datang ke stadion kasih dukungan.
Alumni UI kan gak semuanya dukung Persija. Ada yg dukung klub besar macam Persib, PSIS, Persebaya, PSM, Persipura. Ada juga yg dukung klub kecil macam Persikabo atau Persipasi.
Lha emang gak boleh alumni UI dukung Persija? Ya boleh aja, tapi kok seakan-akan menafikkan alumni UI yang lain ya? Emangnya saya siapa waktu di UI dulu?
Tapi kan saya alumni UI yang mewakili diri sendiri untuk dukung Persija? Ya kalo mewakili diri sendiri, kenapa saya gak bangga dengan bilang:
"SAYA BAPAKNYA ALE, SAYA DUKUNG PERSIJA!!"
berasa lebih militan kan?
#maaf Persebaya, but deep inside my heart, you're still the one & only#
Langganan:
Postingan (Atom)