Rabu, 09 Oktober 2019

Anak Ajaib


Namanya Azka, baru berumur sekitar 4-5 tahun. Badannya gempal tapi pendek. Tak ada yang istimewa dari anak itu sebenarnya. Sama seperti anak-anak lainnya yang meramaikan masjid. Tapi dari situlah keajaiban itu bermula.

Entah apa yang membuatnya tiba-tiba lebih rajin datang ke masjid dibandingkan anak lainnya. Kebanyakan anak lain datang hanya maghrib-isya, tapi dia datang ke masjid selalu 5 waktu. Sering saya perhatikan dia datang subuh ke masjid tanpa ditemani siapapun. Keluar sendirian dari rumahnya yang kontrakan sepetak cuma dengan celana tidur seadanya menuju masjid. Segera ambil wudhu, celingukan pilih shaf, duduk sila dan.... eh malah tidur dia..

Tiap kali ke masjid ada aja ulahnya yang buat saya salut. Dia rapikan semua sandal jamaah yang berserakan jadi berjejer di bawah tangga. Mau tidak mau jamaah yang datang terlambat juga tergerak merapikan posisi sandalnya. Ada kebanggaan tersendiri buat dia saat jamaah pulang tak lagi pusing cari sandal mereka.

Selesai rapikan sandal, dia datangi satu per satu bapak-bapak dan diciumi tangannya. Kadang sambil lompat kodoklah, jalan mundurlah, sembari lari muter2lah, atau iseng ngupil dulu sebelum salaman. Kalau sedang beruntung, keluarlah dari kantong bapak-bapak uang 2ribu buat jajannya atau malah dimasukkan ke kotak amal.

Saat iqamah berkumandang, secepat kilat dia lari dari shaf belakang menuju tepat dibelakang imam. Tapi upayanya gak pernah berhasil, selalu dihalau dia supaya pindah ke ujung shaf karena belum saatnya dia ada di belakang imam saat sholat jamaah. Eh.. pas dipindah ke ujung shaf, malah ngeloyor pergi cari shaf sendiri di belakang.

Trus ajaibnya dimana?
Sejak ada Azka, masjid jadi menyenangkan karena tambah rame. Sejak ada dia, jamaah jadi sadar sendiri rapikan sandalnya.
Karena dia, bapak2 jadi adu cepat dapat shaf terdepan. Karena Azka, bapaknya sendiri akhirnya ikutan jamaah di masjid
Kalau Allah berkehendak, tak perlu susah payah ramaikan masjid.
Cukup kirim sosok-sosok seperti Azka yang datangi masjid.... meski cuma numpang lanjutkan tidurnya 😊😊


Selasa, 17 September 2019

Benci dosanya, Cintai Amalan Surganya 2

Pernah dengar kisah hafiz qur'an yang akhirnya dihukum mati karena membunuh sang khalifah?
Pernah juga baca kisah pelantun adzan yang menjadi murtad di akhir hidupnya?

Bukan karena mereka menjadi penghafal Qur'an terbaik atau menjadi pengingat waktu shalat dengan adzan-nya yang membawa mereka ke akhir hidup yang buruk. Tapi itu bukti sulitnya menjadi Islam yang kaffah dan beratnya tetap berpegang di tali tauhid.

Memahami Qur'an tak cukup hanya dengan akal, tapi harus dengan dengan hati. Akal mungkin hanya menangkap yang tersurat, tapi hanya hati yang mampu memahami yang tersirat.

Melantunkan panggilan adzan atau bacaan Qur'an tak cukup hanya merdu didengar, tapi juga teresap makna baik buat pelantun maupun pendengarnya. Untaian makna itulah yang harusnya tercermin dalam sikap hidup.

Hafiz Qur'an dan Muazin itu tak pernah membayangkan cerita akhir hidupnya berulang kali dijadikan nasehat terbaik bagi muslim lainnya. Bila saja waktu bisa berulang atau diberi waktu untuk sedikit diperpanjang hidup, mereka pastinya akan perbaiki kesalahan hidupnya. Tak akan sudi mereka ada nila setitik yang akan merusak susu sebelanga.

Maka jangan salah berkesimpulan untuk kedua kisah itu. Pahami dengan iman dan semangat untuk terus memperbaiki diri dan tetap istiqamah.

Untuk para pemberi nasehat, berhati-hatilah dalam menyampaikan kisah ini. Bila tak disampaikan dengan bijak, pesan yang disampaikan jadi salah. Bisa jadi pesan yang ditangkap seperti ini :
"Lebih baik jadi pemabok tapi gak ganggu orang, daripada rajin sholat tapi mulutnya kasar"
"Mendingan suka dangdut tapi tetap sholat"
"Mending cuma hafal 1 surat daripada hafal 30 juz tapi masih maksiat"

Bila ada saudara seiman yang terpeleset jatuh ke dalam lubang dosa, segera ulurkan tangan untuk mengangkatnya kembali. Tak perlu menertawakannya dan memperoloknya yang akan membuatnya tak mampu sambut uluran tanganmu karena kedua tangannya menutupi muka tuk menahan malu. Jangan sampai tertawa dan olokkan kita malah membuatnya merajuk dan berpaling dari langkah untuk kembali ke jalan yang baik.

Tak perlu pula menggunjingnya yang malah akan membuat pelakunya makin tenggelam dalam dosa karena sibuk membela diri.
Benci saja dosanya, tapi bukan pelakunya.
Benci saja dosanya, dan tanamkan benci itu pada diri agar kita tak lakukan dosa yang sama.

Ini perkara berkasih sayang dengan saudara, bukan perkara apakah kita lebih baik dari saudara kita yang terpeleset dalam dosa.
Boleh jadi kita paham itu lubang dosa karena dulu kita pernah terperosok kedalamnya, dan saatnya sekarang kita menjadi penyampai nasehat yang baik agar berikutnya tak ada pelaku dosa yang sama.

-Tetaplah saling menasehati dalam kebaikan-

Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS: Al- Hujurat : 12)


Rabu, 11 September 2019

40=46:15

Saat usiamu 40...
Tak perlu lagi ada nyanyian selamat ulang tahun
Lantunan doa 46:15 lebih dari cukup bila tertanam di hati

Usia 40 itu titik balik
Karenanya banyak orang bilang,
"Life begins at 40"
meski seharusnya "Life reflects on 40"

Maknai apa yang sudah terlewati selama 40 tahun
Refleksikan pada diri apa yang akan dilakukan 40 tahun kedepan
Tinggalkan lumur dosa dan segera mulai perbaiki diri, berusaha terus jadi lebih baik

Mintalah petunjuk pada Sang Pemilik Waktu
Petunjuk agar mampu selalu mensyukuri nikmat yg diberikan kepada engkau dan orang tuamu
Yang karenanya kau wajib lakukan kebaikan kepada mereka yang Allah ridhoi
Mintalah petunjuk agar mendapatkan kebaikan yang terus mengalir selamanya untuk dirasakan anak cucu
Taubatlah untuk semua buruk laku dan terus berharap agar menjadi selamat di akhir waktu

Usia 40 memang tak lagi muda, tapi tak perlu juga risau jalani sisa hidup di dunia
Aku kan bersamai langkahmu menuju kebaikan
Meski entah siapa nanti yg lebih dulu berpulang

#bekal40
#911

Selasa, 13 Agustus 2019

Sosok Hijrah

Berulang kali saya dibuat kagum dengan sosok-sosok yang bulatkan tekad untuk total hijrah. Sosok ini hanya bisa dijumpai pada pendosa yang tersentuh hatinya untuk bergerak berubah. Pada sosok inilah energi hijrah meluap-luap. Alasan mengapa mereka berhenti jadi pendosa dan tujuan setelah hijrah itu selalu menarik dan beri semangat saya untuk terus di jalan ini.

Ada kawan yang bertahun-tahun menjadi peminum, keluar-masuk klub malam, dan hampir semua orang mengutuki kelakuannya. Tiba-tiba dia rajin hadir di masjid, datang sebelum adzan dimulai, dan pilih sisi sudut masjid untuk bertafakur. Berangkat ke masjid jam 3 pagi pun dijalani, mau tahajud sekalian subuhan katanya.

Ada juga kawan penjudi yang tak pernah kapok. Dia bilang judi itu ibarat hidup, ada kalah dan menang. Sampai pada suatu titik, dia kembali ke masjid. Selalu rajin sholat jamaah dan dipastikan ambil tempat shaf terdepan, meski bukan bukan tepat di belakang imam.

Sosok lain ada juga sahabat yang dari dulu doyan menumpuk harta yang diragukan halalnya, ya dari kolusi, korupsi, pat gulipat, atau semacamnya. Sekarang berubah jadi rajin sedekah dan hidup bersahaja.

Jenuh. Itu titik balik mengapa mereka berhijrah. Mereka jenuh dengan dosa yang dilakukan. Bosan mereka dengan belenggu dosa yang berulang-ulang. Sang Peminum gak dapat tenang dari tegukannya. Si penjudi gak dapat senang dari menangnya. Penumpuk harta gak dapat bahagia dari banyaknya harta.

Dulu saat jadi peminum, penjudi, penumpuk harta tak seorang pun yang mampu menasehati. Meski perut jadi buncit dan penyakit udah menumpuk, terus aja lanjutkan minum. Meski sudah habis-habisan karena kalah judi, tetap aja pasang taruhan sampai rasakan menang yang menagih. Meski harta benda sudah banyak, sepertinya tak memuaskan nafsunya.

Sekarang semua berbeda, mereka jadi rasakan seperti apa hidup yang tenang, senang, dan bahagia yang sebenarnya. Satu-satunya penyesalan yang tersisa hanya tinggal satu, kenapa hijrah total ini tidak dilakukan sejak dulu. Energi mereka untuk kembali baik benar-benar all out.

Kalau dulu mereka pecinta dunia, sekarang perindu akhir yang baik. Cita-cita nanti di akhir hidup pun tak muluk-muluk. Suatu saat nanti, sang mantan Peminum ingin meninggal saat pergi melangkah ke masjid, bekas Penjudi ingin mati saat sedang sholat, dan eX-Penumpuk Harta ingin tinggalkan dunia saat sudah sedekahkan semua harta.

Hijrah tak cukup hanya sekedar berubah karena ikuti arus perubahan. Hijrah butuh konsistensi untuk terus istiqamah. Hijrah butuh kawan-kawan baru yang berikan dorongan energi untuk terus mengalir dinamis agar tak membosankan.

Untuk semua yg masih tenggelam dosa, ayo segera berubah. Kita semua butuh kalian berhijrah agar berikan dorongan energi itu. Tak perlu tunggu hidayah karena berubah itu tentang bergerak, bukan digerakkan. Bergerak ke kebaikan akan menggerakkan langkah kebaikan lainnya.

Untuk kawan yang sudah bersama berubah, tetaplah di jalan ini karena kalian dibutuhkan untuk membersamai iringi langkah ini dan saling mengingatkan-menguatkan untuk akhirnya temui ujung yang baik.

#JalanHijrah
#MulaiAjaDulu

Berpulangnya Seorang Kawan

Berpulangnya seorang kawan jadi pengingat bahwa ternyata hidup ini singkat, hanya tempat persinggahan sementara....
Tak perlu lama menunggu satu per satu kawan & sahabat tinggalkan kita lebih dulu di dunia ini
Nanti juga akan tiba giliran kita yang menuju kesana...

Bersiaplah... karena tak lama lagi kita juga kan menuju kesana.
Siapkan dengan baik amal kita... karena cuma itu yang akan terus menemani.
Kawan atau bahkan keluarga sendiri tak akan selamanya disamping kita
Jabatan dan kekayaan akan langsung tanggal sesaat setelah ruh terlepas dari jasad...
Hanya doa anak shalih, ilmu yg diamalkan dengan baik, dan harta yg disedekahkan yang akan terus mengalir kebaikannya ke diri kita

Selamat jalan kawan... kupersaksikan kau orang baik. Hanya orang baik yang akan kembali ke kebaikan. Semoga kita bisa berkumpul disana dengan orang-orang baik lainnya. Panggil-panggil namaku jika tak kautemui aku di kumpulan itu nanti disana...


#kawan Sukabumi 10 Agt 2019

Senin, 29 Juli 2019

Rindu Lelaki

Jangan kau tanya bagaimana rindu lelakimu ini
Rindu ini sama seperti yang kau rasakan
Hanya saja rindu ini seperti tercekat di leher
Tak mampu diungkapkan dengan kata

Akhirnya ku rasakan lagi rindu seperti ini
Yang kuingat ini sepadan dengan rasa rinduku padamu
Saat kita dulu terpaut jarak dan waktu
Tapi rindu kali ini berbeda warnanya

Bagaimana mungkin aku tak rindu padanya
Dia yang temani langkah subuhku
Dia yang ajak kembali renungi kalam-Nya
Dia yang selalu bergegas saat kumandang adzan
Dia lelaki kecil wujud diriku dan dirimu

Tapi biarlah rindu ini akan ciptakan rindu yang sama pada lelaki kecilku
Rindu yang ingatkan dia indahnya cinta melebihi nikmat dunia
Rindu yang akan berubah wujud jadi mustajabnya doa
Rindu yang akan luapkan energi kebaikan

Biar saja kutahan rindu ini agar terbangun ketangguhan, tak hanya buat dia tapi juga buatku
Biar kubelai rindu ini agar menjelma jadi ruang hati yang akan terus terhubung
Sebagai pengingat bahwa makin baiknya aku akan terwujud ke dirinya, dan lumur dosaku akan mengotori kakinya yang menuju kebaikan
Biar saja kupeluk rindu ini agar berbuah jadi doa tulus yang menghantar pada indah lantunan kalam-Nya yang tersimpan lama di benaknya
Biar saja kuserahkan rindu ini pada pemiliknya ...

Sabarlah... ini takkan lama untuk merubahnya menjadi Lelaki seutuhnya
Lelaki yang akan kau rindukan kebaikannya dan kau banggakan kerendahan hatinya
Sama seperti rindu dan bangganya dia padamu
Lelaki yang paham bahwa hidup harus diperjuangkan dengan sabar dan tawakal
Supaya mampu dia tebar kebaikan dari buah perjuangannya
Relakanlah... karena ini butuh pengorbanan yang akan membuat ruang kesabaran baru bagi kita berdua

Rabu, 01 Mei 2019

Kemenangan Semu Semar

"Priit...priit...priiitt...!"
Pertandingan bola pun berakhir. Letusan mercon memenuhi stadion. Kurawa bersorak sorai. Bising sekali terasa di telinga. Asap mercon menyelimuti seluruh stadion membuat pandangan berkabut dan perih di mata. Skor di papan tunjukkan Punokawan unggul, entah beda 10 atau 8 poin karena masih terlihat samar.

Meski menang skor, Punokawan tak perlihatkan raut muka cerah gembira. Terlebih lagi Semar yang di ujung tiang gawang. Kepalanya menunduk sembari berulang kali gelengkan kepala seakan tak percaya apa yang terjadi. Bagong yang sejatinya jelmaan Semar juga terlihat bingung dan hanya mampu goyangkan pinggulnya. Gareng-pun berjalan pincang karena berulang kali tersandung di sisi lapangannya sendiri. Hanya Petruk yang terlihat sunggingkan senyum kecilnya.

Di sisi seberang, Pandawa menatap nanar. Arjuna tak mampu lagi berkata-kata dan tak berdaya, seluruh badan seakan remuk seperti saat perang Baratayuda yang lalu. Sadewa yang saat pertandingan di kartu merah tak mampu redam emosinya. Untungnya ada Nakula yang menenangkan. Bima pun sempat terlepas emosinya dan teriakkan Pandawa-lah pemenang sebenarnya. Hanya Yudisthira yang menahan diri tetap tenang dan merenung.

Di luar stadion, sebagian Baladewa terpaksa pulang menunduk lesu. Entah apakah ini hanya bentuk kekecewaan sesaat atau akan jadi depresi berkepanjangan. Di lingkar luar stadion, Baladewa malah disuguhi pemandangan ratusan karangan bunga yang sengaja dipersiapkan Kurawa jauh sebelum pertandingan dimulai untuk merayakan kemenangan semu Punokawan. Tak lupa puluhan baliho propaganda klaim kehebatan Petruk dikibarkan.

Baladewa emak militan mulai lancarkan protes. Dengan memakai daster, bertopi dandang, dan bersenjatakan sapu, mereka menuntut Komite Pertandingan memutar ulang VAR dari sejak peluit berbunyi. Komite Pertandingan meminta bersabar dan hanya menawarkan untuk menggunakan VAR dari satu kamera saja. Baladewa tak sudi karena mereka pegang bukti kecurangan yang terlihat dari banyak kamera VAR yang ambil gambar seluruh sudut. Entah seberapa lama nantinya Baladewa emak militan ini bisa bertahan.

Bagi Pandawa, memenangi pertandingan ini  besar artinya. Pemenang pertandingan akan berhak penuh atas stadion. Ini momentum yang akan dimanfaatkan Pandawa untuk merenovasi stadion dan menambah kapasitasnya. Pandawa ingin stadion menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi semua, tempat Baladewa dan Kurawa rukun bercengkrama dan saling bercerita seperti sedia kala karena mereka terlahir dari garis darah yang sama.

Satu purnama silam, Petruk memang memenangi pertandingan, tapi sebenarnya Duryodana-lah yang jadi penguasa stadion. Sejak berkuasa, aura stadion menjadi berbeda. Aroma busuk menyeruak dari banyak sisi meski tampilan stadion terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Tak mampu Petruk singkirkan tikus dan kecoa yang memang dipelihara Duryodana. Ditambah lagi disisakan beberapa sudut ruang yang dibiarkan gelap dan kotor. Ruang itu memang diperuntukkan bagi para siluman kawan karib Duryodana. Tribun pun disekat-sekat yang membuat penonton terpecah jadi dua kubu yang bersebrangan.

Selepas pertandingan, Petruk diberikan panggung. Dia sadar ada yg tak beres dengan stadion dan pertandingan tadi, tapi tak kuasa menentang Duryodana. Tak sanggup dia tunjuk hidung Duryodana sebagai biang kecurangan. Tuk tutupi ketakberdayaannya, kembali lagi dia bual janji untuk buat stadion baru di seberang pulau. Stadion yang lebih baik, lebih megah, dan lapangan yang lebih rata katanya. Stadion baru yang bebas bising dan macet. Tapi sayang, tak satupun Baladewa mengamini. Teringat dulu saat masih jadi pecundang, Petruk sesumbar akan mudah membenahi stadion yang lama. Akhirnya semua paham, apapun yang akan dikerjakan Petruk ujungnya hanya akan menambah pundi-pundi emas Duryodana.

Di bibir panggung, pandangan Semar sepertinya kosong. Pikirannya menerawang jauh. Tak mampu dia bayangkan bagaimana dampingi Petruk satu purnama ke depan dan akan tetap di bawah bayangan Duryodana. Sepanjang hidup jadi panutan hidup bagi Baladewa, tapi tak mampu dia enyahkan durjana di depan matanya. Semar berharap ini semua mimpi dan ingin dia cepat terbangun untuk segera kembali ke kahyangan.

Baladewa kini hanya tinggal berharap pada Sang Kuasa. Laku upavasa mesti dilakukan tuk jadi upaya berserah diri dan panjatkan doa terbaik. Semoga akan ada keajaiban atau setidaknya dikuatkan hati tuk sanggup hadapi kenyataan di satu purnama kedepan...

#EndGame
#LanjutanCeritaNegriWayang
#MenangCurangApaEnaknyaSemar?
#SaatnyaKembaliPuasa




Sent from my Samsung Galaxy smartphone.