Tak sekali - dua kali istri selalu bertanya ke saya kenapa Ale jadi
berubah sejak belajar dan mondok di pesantren. Tiap kali dikunjungi dan
ditanya ini-itu ama emaknya, sepertinya dia sering gak fokus dgn apa
yang ditanya. Kadang harus tunggu sesaat sebelum dijawab sekenanya atau
malah gak jawab sama sekali ama dia. Buat dia, seperti gak penting jawab
pertanyaan emaknya. Saya pun merasakan yang sama, tapi segera paham
bahwa justru kita berdua yang tidak pada frekuensi yang sama dengan Ale.
Sebenarnya ini suatu hal biasa terjadi pada siapapun. Saat seseorang
serius belajar dan menghabiskan sebagian besar waktu pelajari sesuatu,
maka pola hidup dan kebiasaan baru akan terbentuk mengikuti ritme apa
yang difokuskan. Hanya tertarik pada sesuatu yang jadi bagian
pembelajarannya, dan terkesan tidak memiliki perhatian dengan hal lain.
Sejak Ale di pondok, sebagian besar waktunya dipakai buat belajar
Qur'an. Sejak sebelum subuh hingga matahari terbit, ba'da dhuhur sampai
menjelang ashar, dilanjut lg setelah maghrib sampai jam 10 malam.
Belajarnya tak hanya di ruang kelas atau di dalam masjid, tapi juga di
taman, di selasar, bahkan di tengah jalan dalam kawasan pondok.
Kebiasaan yang diulang ini membentuk pola hidup yang terus fokus dengan
ayat-ayat Qur'an. Menanamkan pemahaman bahwa belajar bisa dimanapun.
Hampir 6 bulan di pondok, banyak perubahan pada Ale. Sorot matanya jadi
lebih tajam, tapi tatapannya seakan dia berpikir sesuatu yang lebih
berat. Ale gak lagi banyak bicara seperti jaman SD dulu, tapi mulutnya
kadang komat-kamit sendiri menghafal bacaan. Saat dikunjungi, tak lagi
tertarik dia dengan game online PUBG, Fortnite, atau FIFA. Paling banter
cuma buka youtube liat cuplikan gol Barcelona. Dengan kawan2 kampungnya
juga gak se-akrab dulu karena memang jarang bertemu.
Apa ini
normal? Kenapa hidup di pondok buat anak jadi seakan terasing dari
kehidupan sosialnya? Kenapa belajar Qur'an malah jadi gak perhatian ama
hal lain?
Sabar... sebelum berprasangka negatif dan buru-buru
menyimpulkan yang salah, gak ada salahnya kita masuk ke frekuensi yang
sama dengan Ale. Gak perlu dari pagi sampai malam buka Qur'an, tapi coba
deh luangkan 3 jam sehari untuk baca & hafalkan 1 halaman per
hari-nya. Rileks aja tapi fokus serius.
Lambat laun kita akan
masuk fase yang sama dengan para penghafal Qur'an yang lain. Otak akan
terstimulasi untuk terus membaca, mengingat, menghafal. Dari otak turun
ke hati yang akan meresapi dan memaknai. Dari hati akan menjalar ke
seluruh tubuh yang akan menjaga ilmu yg didapat dan mendorong untuk
menginspirasi orang lain yang menuju frekuensi yang sama. Dari apa yang
dibaca, kita akan menjadi bagian apa yg dipahami dari bacaan.
Apa
yang kita baca, yang dilihat, dan yang dialami tiap hari akan membuat
kebiasaan yang membentuk pola hidup dan sudut pandang kita. Sama seperti
bila setiap hari bicara politik, kita akan paham segala bentuk intrik
politik. Saat harian kita jalani bisnis, intuisi bisnis akan berkembang.
Tiap hari menyusuri jalan, kita akan tahu rute mana yang tercepat
sampai tujuan.
Tak ada yang salah dengan pilihan kita yang
menjadi fokus pembelajaran. Yang salah hanya bila kita berhenti belajar.
Kita pun bisa berganti fokus kapanpun. Dan pastinya akan butuh waktu
untuk mempelajari sesuatu yang baru berproses menjadi manfaat bagi diri
kita dan orang lain.
Pahami bahwa pilihan fokus kita bisa berbeda dengan orang lain. Nantinya kita akan jadi jauh lebih bijak memaknai ini semua.
Tetaplah terus belajar ya Nak tuk jadi lebih baik....
#ceritaanakpondok