Kamis, 15 Oktober 2020

Jerawat

 Rasanya sudah ribuan kali istri ngedumel sendiri soal jerawatnya. Setiap lihat cermin, sempat2nya periksa lagi jerawatnya yang padahal dah berkali-kali dilihat, dan bisa ditebak berikutnya bakal ngomong apa.

"Duh jerawatku kok gak ilang2 ya?"
"Capek deh Yah jerawatan mulu...."😑
"Aku kok kayak anak SMA ya jerawatan begini?"
"Apa aku harus ganti skin care kali ya?"
"Aku jadi jelek ya kalo jerawatan begini..."

Buat saya, dumelan itu jadi momen serba salah. Dijawab salah, gak direspon lebih salah.
Misalnya dijawab jujur begini, "Iya sih... kalo jerawatan jadi jelek gitu mukanya..", ya siap2 aja dimanyunin seharian.
Kalo dikasih jawaban cuek kayak, "jerawatan mah biasa aja kali...", eh malah nuduh suaminya gak perhatian lagi.
Apalagi kalo dijawab ngegas, "Emang ganti skin care bakal cepet hilang gitu...?!", yang ditanya malah makin panjang lebar iklanin produk2 skin care yang gak jelas itu.
Dijawab pake pujian jg salah, "Kamu tetap cantik kok meski jerawatan..", dia malah nyinyir suaminya pelit gak mau belikan skin care yg mahal.
Pake jawaban bela diri pun lebih salah, "Mending kayak aku, jarang mandi, gak pernah cuci muka pake sabun, dakinya banyak, tapi gak jerawatan kayak kamu..", langsung dia panggil bala bantuan anak gadis yg gak kalah panjang jelaskan teori jerawat vs perempuan.

Trus kalo didiemin aja gimana?
Tunggu aja ocehan berikutnya..
"Ayah nih istrinya lg ngomong kok dicuekin...!!"
"Kamu tuh ya gak paham kalo jerawatan itu sakit!"
"Ayah enak gak jerawatan, aku kan mukanya sensitif.."
"Dulu aku gak kayak gini lho... dulu mukaku cantik, mulus, gak jerawatan... bla...bla..bla..."
Dan ujung2nya berhenti sendiri karena kecapekan ngedumel 😆😆

Tapi kalo belum ilang sebelnya, dicari2 pelampiasan yang lain. Si Juju yg padahal kucing tiba-tiba jadi kambing hitam.
"Gara-gara kamu tuh Ju suka tidur di sofa, aku jadi jerawatan kan!!"
atau balik lagi ke suaminya, "Besok-besok kalo mau tidur kamu mandi Yah, biar aku gak jerawatan!!"




("Ya Allah... salah apa hambamu ini....")

Kalo dah merajuk begitu, terpaksa saya keluarkan jurus pamungkas. Ambil hape, buka mobile banking, trus tunjukkin bukti transfer, dan bilang, "Kira-kira segini cukup gak buat beli skin care?"
Langsung si emak dan anak gadisnya kompak jawab, ".................!" (tebak sendiri aje jawabnya apa) 😊😊😊

#TolakJerawatSamaPentingnyaKayak#TolakRUU-OL

Minggu, 11 Oktober 2020

Njelehi Tanpa Baca

Demo tanpa paham apa yg didemokan, itu njelehi....

Sama njelehi-nya... yang men-sahkan tapi gak paham seluruhnya

Demo sampe malam lupa waktu itu njelehi...

Sama njelehi-nya... yang ketok palu tengah malam

Protes keras teriak lantang tapi gak mau baca, itu njelehi...

Sama njelehi-nya... yang gak mampu jelaskan ke rakyat karena sama-sama gak baca


Demo rusuh karena termakan hoax 

Kumpul-kumpul demo di tengah pandemi

Demo rusak fasum paksa kehendak

itu memang njelehi....


Tapi sama njelehinya... 

Yang sengaja buat hoax untuk tutupi kebusukan yang lain

Yang buat UU eh... ternyata kumpul-kumpul juga

Yang katanya bela rakyat, eh taunya terselip kepentingannya sendiri


Ada yang terus mengutuk wakil rakyat, dan tetap bela pendemo

Ada yang hanya menyalahkan pendemo, tapi wakil rakyat gak dikritik

Ada pendidik yang gak mau baca, tapi salahkan mahasiswa yang demo rusuh karena gak baca juga

Ada yang bilang wakil rakyat cerminan rakyatnya, tapi ternyata rakyat demo ya karena wakil rakyatnya

Ada yang bilang pemimpin itu wujud rakyatnya, tapi ternyata pemimpin tak pernah berwujud nyata di depan rakyat

Ada yang maunya cari keadilan di jalanan, tapi gak mau jalani yang konstitusional

Ada yang teriak harusnya konstitusional, tapi ternyata gak bisa jamin adanya keadilan


Ah sudahlah.... kembali saja lihat diri sendiri

Mulai saja dulu dengan membaca

Baca kembali hatimu

Baca kembali apa yang kau tulis dan maknanya

Kemudian pikirkan manfaat apa yang bisa kau beri

Dan renungkan pertanggungan-jawabnya ke Tuhanmu


#BukanProfesorCumaRakyatJelata

Rabu, 03 Juni 2020

Kembalilah ke Masjid

Buat diri yang sudah merasa nyaman kembali ke jalanan karena bosan di rumah... 
Buat diri yang harus kembali pergi kerja karena tetap ingin gajian...
Buat diri yang kembali pergi ke pasar untuk beli makanan...
Buat diri yang berkerumun di mall borong kebutuhan bulanan....
Kembalilah dulu ke Masjid.

Buat diri yang tetap di rumah...
Buat diri yang terlelap dalam nyaman di kamar...
Buat diri kaum rebahan dan senderan di sofa...
Buat diri penghambur waktu luang...
Gerakkan hati untuk jadikan masjid tujuan pertama saat nanti mulai nyaman dan aman keluar rumah..
Bangkit dan kembalilah ke Masjid.

Hidup tak sekedar jalan2 pengusir bosan
Hidup tak sekedar kerja demi gajian
Hidup tak sekedar ke pasar beli makanan
Hidup tak sekedar puaskan nafsu sendiri
Hidup tak berarti selalu merasa nyaman
Hidup juga tak berarti bisa terus rebahan dan bermalasan
Hidup tak berarti terus bebas-sebebasnya dengan waktu luang
Hidup itu harusnya kembali ke Pemilik Hidup

Bila rela berpeluh untuk kembali ke jalan, kenapa tak ingin kembali lagi ke masjid yang nyaman?
Bila tak hirau dengan penuhnya pasar, kenapa tak dahulukan kembali ke masjid yang hanya beberapa shaf?
Bila kembali semangat kerja sepanjang hari, kenapa tak sempatkan kembali ke masjid yang hanya butuh 10 menit?
Bila ke mall borong semua barang2 dan tak berdaya harus saat antri 1 jam menunggu kasir, kenapa tak mau ke masjid borong tumpukan pahala dan tundukkan diri untuk bersujud disana?
Bila putuskan kembali ke jalan, ke pasar, kembali kerja, atau tetap rebahan di rumah kedepankan logika atau pembenaran pikiran dan nafsu...
Kembali ke Masjid hanya perlu hati yang ciptakan rindu untuk mengetuk rumah-Nya. Ramaikan rumah-Nya meski hanya sejenak disana.

Mungkin benar adanya perjalanan terjauh adalah kembali ke Masjid meski hanya berjarak sepelemparan batu....
Hanya hati yang rindu yang bisa meringankan langkah menuju kesana.

#self reminder yg udah entah brapa bulan blm beranjak ke masjid tapi tetap kerja, ke pasar, ke mall.

Written on Ramadhan 2020

Selasa, 02 Juni 2020

Sami'na Wa Attho'na

Setiap kali anak-anak dan emaknya pengen beli sesuatu yg lumayan mahal, saya selalu katakan kalimat ajaib, "Sabar ya... kalian Sami'na Wa Attho'na dulu.."

Dan setiap kali dengar kalimat itu, mereka seketika langsung senyum kecut.
"Hmmm.... pasti gak jadi dibelikan"
"Ayah mah pasti bohong nih..."
"Ntar palingan yg dibelikan beda ama yg dipengen..."
"Mana mungkin ayah belikan barang yang mahal..."
Dan tetap saya gak bergeming.

Apa yang saya lakukan ke anak & istri sebetulnya hanya copy & paste apa yang dulu diucapkan Ibu. Saya ingat dulu jaman SD merengek minta dibelikan robot mainan. Tiap kali jalan-jalan belanja dan lewat toko mainan, mata ini gak lepas dari deretan robot 3 in 1 yg dulu berasa super keren. Tapi cepat-cepat Ibu tarik tangan saya untuk lekas menyingkir dari toko. Sesampai di rumah, Ibu ucapkan kalimat mantra itu, "Sabar ya... Sami'na Wa Attho'na dulu".

Dulu ketika saya kecil, kalimat itu artinya sama seperti yang dipahami anak saya sekarang. Itu artinya Ibu gak akan dibelikan mainan itu sekarang meski cukup punya duit. Bisa juga artinya Ibu gak punya duit selain untuk beli kebutuhan rumah. Atau sama juga itu artinya saya cuma punya mimpi punya sesuatu yang entah kapan jadi kenyataan.

"Kami Dengar dan Kami Taat"

Itu arti harfiah dari kalimat itu. Ibu ajarkan ajaibnya kalimat itu jauh-jauh hari tanpa harus terangkan apa maksudnya. Saat sekarang jadi seorang ayah, jadi paham makna kalimat itu. Lewat kalimat itu, Ibu ajarkan seperti itulah seharusnya menjalani hidup. Saat kekurangan, dimintanya kita bersabar. Dan saat berkecukupan, menahan diri tak luapkan nafsu keinginan. Lebih baik berbagi dulu dengan yang sedang membutuhkan.

Sampai kapanpun, selama hidup kita cuma diminta untuk mendengar dan taat dengan Sang Penguasa Hidup. Jadi manusia itu cuma diminta manut dan tidak menuntut. Kemenangan sejati adalah saat mampu menahan diri, tersenyum saat berbagi, dan berbahagia apapun keadaannya.

Selamat ber-Lebaran...

#ManutLebaranDiRumahAja
#SholatIedDiRumah


Kamis, 20 Februari 2020

Rindu

Hampir di setiap menjelang jadwal kunjungan ke pondok, Ale gak pernah lupa kirim pesan WA lewat hape ustadz-nya.
"Yah, minggu besok datang kan?"
"Ma, besok datang jam brapa? Aku kangen..."
Dan gak berapa lama setelah itu, dia ketik lagi,
"Oh ya lupa bilang Assalamu'alaikum....., ini Ale." 😍


Sesederhana itu memang kata rindu Ale. Tak perlu kata-kata panjang, langsung dan singkat. Rindu yang mendahului salam. Tapi saya mengerti makna rindu itu tak sesederhana kata yang terucap.

Buat anak-anak pondok, rindu menjadi ruang rasa yang baru. Ruang rasa yang membuat paham bahwa ada hangat cinta yang selalu dinanti, dan rasa itu akan semakin membuncah saat terpisah ruang dan waktu.
Buat mereka, hari kunjungan jadi hari paling spesial. Didatangi keluarga, diberi pelukan hangat, dibawakan makanan kesukaan, saling bertukar cerita, atau sekedar diajak jalan2 keluar sejenak menjadi pengobat rindu yang tertahan.
Yang tak beruntung dikunjungi, dipinjami hape untuk telpon ayah bundanya cukuplah untuk melepas rindu. Mereka paham harus menunggu 3-6 bulan atau bahkan setahun lagi untuk bertemu yang dicinta.

Ada kawan Ale yang entah kapan lagi bisa ucapkan rindu. Kata rindu ke bundanya minggu-minggu lalu menjadi yang terakhir ditulis di WA.
"Hari sabtu ke sini”

“Ya bunda (ikut) juga”
“Mohon Bun, Bunda harus ikut. Aku kangen...."
Dia tak pernah tahu kalau bundanya merahasiakan kesehatannya yg makin menurun. Sang bunda akhirnya berpulang setelah berjuang melawan sakitnya. Kini rindu anak itu dipaksa dipendam dalam, meski tak akan pernah hilang rasa itu.

Pesantren bukan lagi tempat anak2 kehilangan rindu, tapi justru disini mereka nikmati rindu sebenarnya. Bukan rindu semu yang dipuja para Bucin kaleng-kaleng. Rindu yg dinikmati buat mereka jauh lebih tangguh, saling menguatkan & beri motivasi, merubahnya jadi doa terbaik, meletupkan semangat, dan ujungnya berikan pemahaman bahwa luapan rindu sejati hanya untuk Sang Pemilik Rindu.
#CeritaAnakPondok
#BukanRinduKaleng2

Senin, 09 Desember 2019

You are What You Read

Tak sekali - dua kali istri selalu bertanya ke saya kenapa Ale jadi berubah sejak belajar dan mondok di pesantren. Tiap kali dikunjungi dan ditanya ini-itu ama emaknya, sepertinya dia sering gak fokus dgn apa yang ditanya. Kadang harus tunggu sesaat sebelum dijawab sekenanya atau malah gak jawab sama sekali ama dia. Buat dia, seperti gak penting jawab pertanyaan emaknya. Saya pun merasakan yang sama, tapi segera paham bahwa justru kita berdua yang tidak pada frekuensi yang sama dengan Ale.

Sebenarnya ini suatu hal biasa terjadi pada siapapun. Saat seseorang serius belajar dan menghabiskan sebagian besar waktu pelajari sesuatu, maka pola hidup dan kebiasaan baru akan terbentuk mengikuti ritme apa yang difokuskan. Hanya tertarik pada sesuatu yang jadi bagian pembelajarannya, dan terkesan tidak memiliki perhatian dengan hal lain.

Sejak Ale di pondok, sebagian besar waktunya dipakai buat belajar Qur'an. Sejak sebelum subuh hingga matahari terbit, ba'da dhuhur sampai menjelang ashar, dilanjut lg setelah maghrib sampai jam 10 malam. Belajarnya tak hanya di ruang kelas atau di dalam masjid, tapi juga di taman, di selasar, bahkan di tengah jalan dalam kawasan pondok. Kebiasaan yang diulang ini membentuk pola hidup yang terus fokus dengan ayat-ayat Qur'an. Menanamkan pemahaman bahwa belajar bisa dimanapun.

Hampir 6 bulan di pondok, banyak perubahan pada Ale. Sorot matanya jadi lebih tajam, tapi tatapannya seakan dia berpikir sesuatu yang lebih berat. Ale gak lagi banyak bicara seperti jaman SD dulu, tapi mulutnya kadang komat-kamit sendiri menghafal bacaan. Saat dikunjungi, tak lagi tertarik dia dengan game online PUBG, Fortnite, atau FIFA. Paling banter cuma buka youtube liat cuplikan gol Barcelona. Dengan kawan2 kampungnya juga gak se-akrab dulu karena memang jarang bertemu.

Apa ini normal? Kenapa hidup di pondok buat anak jadi seakan terasing dari kehidupan sosialnya? Kenapa belajar Qur'an malah jadi gak perhatian ama hal lain?

Sabar... sebelum berprasangka negatif dan buru-buru menyimpulkan yang salah, gak ada salahnya kita masuk ke frekuensi yang sama dengan Ale. Gak perlu dari pagi sampai malam buka Qur'an, tapi coba deh luangkan 3 jam sehari untuk baca & hafalkan 1 halaman per hari-nya. Rileks aja tapi fokus serius.

Lambat laun kita akan masuk fase yang sama dengan para penghafal Qur'an yang lain. Otak akan terstimulasi untuk terus membaca, mengingat, menghafal. Dari otak turun ke hati yang akan meresapi dan memaknai. Dari hati akan menjalar ke seluruh tubuh yang akan menjaga ilmu yg didapat dan mendorong untuk menginspirasi orang lain yang menuju frekuensi yang sama. Dari apa yang dibaca, kita akan menjadi bagian apa yg dipahami dari bacaan.

Apa yang kita baca, yang dilihat, dan yang dialami tiap hari akan membuat kebiasaan yang membentuk pola hidup dan sudut pandang kita. Sama seperti bila setiap hari bicara politik, kita akan paham segala bentuk intrik politik. Saat harian kita jalani bisnis, intuisi bisnis akan berkembang. Tiap hari menyusuri jalan, kita akan tahu rute mana yang tercepat sampai tujuan.

Tak ada yang salah dengan pilihan kita yang menjadi fokus pembelajaran. Yang salah hanya bila kita berhenti belajar. Kita pun bisa berganti fokus kapanpun. Dan pastinya akan butuh waktu untuk mempelajari sesuatu yang baru berproses menjadi manfaat bagi diri kita dan orang lain.

Pahami bahwa pilihan fokus kita bisa berbeda dengan orang lain. Nantinya kita akan jadi jauh lebih bijak memaknai ini semua.

Tetaplah terus belajar ya Nak tuk jadi lebih baik....
#ceritaanakpondok



Rabu, 09 Oktober 2019

Andai memang Joker betulan ada

Andai memang Joker betulan ada di dunia nyata, gak akan sulit rasanya kalo dia dapat dukungan publik. Semua atribut yang mendukung sudah ada di dirinya meski dia sendiri tak sadar miliki itu semua.

Joker terlahir di lingkungan yang tidak buat dia bahagia, jadi dia tahu persis bagaimana rasanya menjadi rakyat yang termarjinalkan. Dicemooh, direndahkan, dihina, atau sama sekali tidak dianggap sudah jadi santapan sehari-hari. Tinggal ditampilkan ke publik bahwa dia merepresentasikan mereka dan.... Put on a Happy Face

Joker sosok anak yang sayaaang banget ama Ibunya. Dia rawat ibunya yang sakit mentalnya sepenuh hati. Ibunya satu-satunya sosok panutan yang selalu dipatuhi, meski Ibunya jugalah yang buat dia jadi persis sepertinya. Tak ada yang tahu, dia sendiri yang akhirnya buat Ibunya bebas dari sakitnya. Tapi yang ditampilkan ke publik cukuplah bahwa dia sosok penyayang dan ... Put on a Happy Face

Joker itu sosok pekerja. Di benaknya cuma ada kerja, kerja, dan kerja. Lakukan apapun sekehendak hati. Tak perlu dipikir dulu karena tak kuasa dia berpikir. Dia cukup manut taat laksanakan perintah, meski ceroboh hasil kerjanya. Apapun yang dilakukan, yang penting.... Put on a happy face
Joker itu tampil apa adanya. Tak ada beda saat dia pakai bedak di muka atau dengan wajah polosnya. Tampil sederhana, tak pernah tampak raut marah, dan penuh senyum meski sebenarnya itu tawa kalutnya hati. Publik senang dengan raut bahagia tak peduli sebesar apapun kekacauan yg dibuat dan sedih yang dirasa. Yang terpenting selalu... Put on a happy face
Mimpi Joker jadi raja panggung. Dia catat semua detil bagaimana kuasai panggung. Dia ingin penonton tertawa bersamanya. Dan benar.... di panggung dia hanya tertawa sepanjang waktu. Satu-dua patah kata, kemudian tertawa terbahak tak berujung. Penonton termenung, tapi entah kenapa jadi terbius ikut tertawa meski tak paham kenapa tertawa. Ini yang ditampilkan ke publik.. lepaskan masalahmu dengan tertawa meski tak selesai dan..... Put on a Happy Face
Joker itu mimpi buruk buat koruptor dan penumpuk harta. Buat Joker, tak ada ruang hidup buat mereka. Pejabat yang korup sudah buat hidupnya jauh dari menyenangkan. Dia akan lawan semua perilaku busuk koruptor apapun caranya meski dengan cara yang busuk pula. Penumpuk harta pun ketakutan karena Joker anti kemapanan. Teror, Intimidasi dan Ancaman ditebar, tapi tetap dengan senyuman. Joker memang gak doyan korupsi dan tumpuk harta. Cukup beri ruang bagi kawan begundalnya untuk bebas berekspresi, jadilah dia sosok penguasa yang dipuja. Buat publik, Joker anti Korupsi dan bela kepentingan publik. Tinggal lepaskan senyum dan.... Put on a Happy Face
Joker itu jiwa yang terganggu mentalnya. Tak terhitung berapa kali dia berhalusinasi. Tapi anehnya, apapun yang dilakukan seakan tak pernah salah karena publik maklum, iba, bahkan simpati padanya. Itu karena dia selalu.... Put on a happy face
Buat Joker sendiri, dia tak butuh jadi sosok apapun. Dia butuh jadi diri sendiri dan tak perlu jadi badut. Untuk itu dia butuh dipeluk, dicintai, diakui, dihargai. Dia ingin hidup normal dan tak perlu lagi... Put on a happy face
Ah.... untungnya Joker tak pernah benar-benar ada. Untungnya juga di negeri ini tak hadir sosok Joker. Disini cuma ada Petruk yang tiru kelakuan Joker. Itu pun cuma saat mainkan lakon Petruk Mendem. Tapi untungnya ada Semar yang dampingi sebagai penasehat. Untungnya Petruk dan Semar juga bukan wujud nyata.
Dan cuma di negeri ini selalu ada untungnya sepelik apapun keadaannya....