Selasa, 08 Juni 2021

Wedjang Kopi - Jaga Qur'an

 Selalu jaga Qur'an-mu

Tetaplah baca Qur'an-mu
Sesibuk apapun dirimu
Sesempit apapun waktumu
Seenggan apapun niatmu

Tak ada paksaan untuk selalu baca Qur'an... tapi justru itulah yang membuatnya luar biasa

Saat terus baca Qur'an-mu, kau jaga qur'an dekat dirimu
Kau hafal Qur'an-mu, selamanya akan ada di hatimu
Kau pahami Qur'an-mu, akan tercermin dalam keseharianmu

Jaga Qur'an-mu... dan Allah akan menjaga hidupmu.

teras rumah pwkt 290521 - w/ DS


Senin, 07 Juni 2021

Wedjang Kopi - Saat Banyak Masalah

Saat kau merasa banyak masalah... segera datangi masjid saat subuh...

Bangunlah lebih awal dan segera mandi lalu berwudhulah. Rasakan kesegaran airnya...
Kenakan pakaian terbaik karna engkau akan berkunjung ke rumah Allah...

Segera menuju masjid & nikmati setiap langkah kakimu. Hirup sejuknya udara pagi...

Sembari jalan, coba petik sehelai daun atau segenggam rumput. Ciumlah harumnya dan resapi embunnya...

Segarnya air, ringan langkahmu, sejuknya udara, harumnya embun daun itu nikmat datangnya fajar dari Allah...

Saat masuki masjid, ucapkan salam dan rasakan hangatnya sambutan Allah dirumah-Nya...

Sholatlah dua rakaat sebelum subuh tuk dapat kemuliaan yang melebihi nikmat dunia dan seisinya...

Saat berjamaah, nikmati subuhmu dan luapkan semua resahmu dalam doa terbaikmu...

Bila sebelum subuhmu saja kau sudah dapat nikmat fajar & kemuliaan seisi dunia, tak perlu lagi risaukan masalah duniamu...

@kedai kopi sidoarjo 300521 - w/ IKW

Selasa, 02 Maret 2021

Drama Hari Ini

 Bapak     : “Dek.... kamu boleh main apa aja, asal sesuai syarat yang dibuat Ibumu!”

Dedek   : “Main kebut-kebutan motor di jalan boleh Pak?

Bapak     : “Iya boleh... asal nurut ama syarat dari Ibumu!”

Ibu         : ”OK silahkan kebut2an asal pake helm, jalanannya kosong, dan sesuai kearifan Pak RT!”

Q1. Ini yang berkuasa buat aturan Bapak atau Ibu?

Kakak     : “Jangan pernah kebut2an motor, itu bahaya...!!”

Dedek    : ”Kan udah dibolehin Bapak.... Ibu juga dah kasih syarat yang ketat...”

Q2. Mana yang benar? Bapak membebaskan trus Ibu buat syarat, atau Ibu yang buat syarat karena perintah Bapak?

And at the end of the day......

Ibu         : “Dek... kamu gak boleh kebut-kebutan, gak boleh ama Pak RT!!!”

Bapak   : “Tapi aturan Bapak tetap sama ya... Kamu boleh main apa aja, asal sesuai syarat Ibumu!

Ibu         : “Ntar Ibu kasih tau syaratnya kalo Bapakmu dah jadi Pak RT....

Q3. Mending ganti Bapak, ganti Ibu, ganti Bapak+Ibu, atau ganti Pak RT-nya aja?

Kakak    : “Halah mumet... motor aja gak punya kok buat aturan kebut2an di jalanan...”


Moral Cerita : “Let’s make simple things complicated”

Minggu, 17 Januari 2021

Kematian yang Dirindukan

Suatu sore saya pulang dengan seorang ustadz yang juga kawan kerja. Setiap dekat Beliau, selalu saya sempatkan untuk diskusi soal kehidupan dan bagaimana menjalaninya. Tapi kali ini saya banyak bertanya tentang hakikat kematian.

Ada banyak pertanyaan tentang kematian yang sebenarnya saya sudah tahu jawabannya, tapi butuh untuk lebih paham agar yakin karena pada akhirnya saya juga akan menuju kesana. Pertanyaan sederhana yang terus selalu dipertanyakan oleh kedangkalan akal saya.

"Mengapa harus merasakan kematian?"

"Apakah sakit saat menghadapi kematian?"

"Apakah kita tahu saat kematian diri ini sendiri?"

"Apakah sholat dan ibadah bisa mudahkan saat kematian kita?"

"Mengapa banyak orang yang sepertinya tidak siap menghadapi kematian?"

"Apakah yang kematiannya mudah itu tanda orang baik, dan yang sulit itu tanda orang yg di hidupnya berbuat kerusakan?"

"Apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi kematian?"

Tak perlu menjawab semua pertanyaan saya, Pak ustadz pun mengawali dengan kalimat, "Mungkin hanya soal kematian dan akhirat yang selalu ditanyakan pada orang hidup yang belum pernah rasakan kematian dan jalani kehidupan akhirat..., Tapi kita bisa pahami dengan akidah dan ilmu..."

Bicara apapun tentang kehidupan dunia ataupun akhirat, pangkalnya adalah tentang kesadaran diri bahwa kita adalah makhluk Allah. Pemahaman bahwa diri adalah hamba yang sepenuhnya mengabdi dan taat kepada-Nya. Allah yang berikan kehidupan dan Allah pula yang jamin penghidupan sesuai kadarnya. Sekehendak-Nya kapan memulai kehidupan, melebihkan atau mencukupkan penghidupan kita. Saat dihentikan penghidupan, itulah akhir kehidupan di dunia. Dan penugasan kita di dunia telah selesai. Kembalinya hamba ke Penciptanya seharusnya menjadi sesuatu yang dirindukan bila sepanjang hidup kita taat dan terus menghamba.

Bicara tentang saat kematian, saya jadi ingat almarhum Ibu saya. Cukup sederhana keinginan Ibu. Bila kematian menjelang, Ibu tak mau merepotkan siapapun. Dan keinginannya pun terkabulkan. Saat Ibu mulai sakit, bahkan anak-anaknya sendiri tak ada yang tahu. Sakit menjelang ajalnya pun tak membebani siapapun. Tapi saya yakin persiapan kematiannya tak sesederhana keinginan terakhir Ibu.

Bila ilmu tentang kematian didahului dengan kuatnya akidah, kematian akan menjadi sesuatu yang dirindukan.

Bila paham sholat dan ibadah kita hanya sepanjang hidup, persiapkan anak-cucu kita menjadi shalih, sampaikan kebaikan ilmu yang menginspirasi orang menjadi lebih baik, infakkan harta yang abadi manfaat dan pahalanya.

Bila yakin hidup itu hanya soal taat, jadikan sabar dan sholat keseharian kita. Sabar tuk tunjukkan ketakberdayaan kita dan hanya mengharap ke Allah. Sholat tuk sampaikan rasa syukur atas takdir apapun yang diberikan.

Bila cinta ini ujungnya hanya untuk Allah, seharusnya paham tak perlu berharap balasan cinta dari manusia dan bersandar pada dunia. Dunia cukup hanya di genggaman, tak perlu masuk sampai ke hati.

Dan minggu lalu kita yang masih hidup dapatkan contoh kematian yang dirindukan. Jiwa yang siapkan amalan terbaiknya sedari dini. Sosok yang memuliakan anak yatim dan menafkahi fakir miskin. Selalu ulurkan tangan bantu yang ditimpa musibah. Teladan yang siapkan generasi shalih, hanya sampaikan ilmu terbaik, dan tak terhitung infak harta yang terus mengalir kebaikannya. Sakitnya dimaknai bukti sayangnya Allah, dan saat kematiannya menjadi saat dirindukan karena telah jadi jiwa-jiwa yang tenang..

*Hidupnya jadi mulia, Kematiannya pun dirindukan... Barakallah*

Al-Fajr : 27-30



# Alhamdulillah... untuk kawan, rekan, kerabat, dan Ulama yang telah tunjukkan nasehat terbaik

# siapkan diri tuk kematian yg dirindukan

# pengen jadi jiwa yang tenang sebelum kematian datang

Senin, 26 Oktober 2020

Saat Di Dekat Kematian

Saat di dekat kematian.... 
Tiba-tiba diri tersadar
Kesenangan dan kemewahan hidup terasa hambar
Harta dan Kuasa tak lagi bermakna
Pahit getir hidup pun sirna seketika
Tak lagi ada keluh kesah beratnya hidup
Dan dunia berubah jadi masa yang sekejap saja berlalu

Saat kematian di depan mata....
Diri ini hanya akan disibukkan masalah amal perbuatan
Kumpulkan amal baik yang tak seberapa, 
Tapi berharap banyak diganjar pahala berlimpah
Berpasrah pada amal buruk yang berserakan, 
Terus berharap diampuni segala dosa

Saat kematian menjelang...
Rasakan kerumunan yang mengelilingi
Tak banyak yang mampu bicara saat melihat jasad ini terbujur kaku
Lantunan doa dan derai air mata datang silih berganti
Tapi entah berapa banyak yang pahami arti kematian ini
Karena hanya diri ini yg harus bersiap hadapi kematian itu sendiri

Saat jiwa kembali ke Pemiliknya...
Lihat jasad sendiri dimasukkan ke dalam kubur
Keluarga dan sahabat hanya antar sampai tanah menutupi tubuh ini
Dan berikan doa dan tetes air mata terakhir
Tapi tak satupun yang akan selalu menunggu
Suara langkah kaki satu per satu meninggalkan menjauh
Dan kini saatnya diri ini hadapi semua sendiri
Hanya amal baik yang akan menemani...

Saat jiwa ini pergi dari dunia...
Doa-doa tuk diri ini akan berangsur reda dan menghilang
Tenggelam dalam dunia yang riuhkan semua yang tersisa di dalamnya
Diri ini hanya akan ada dalam kenangan yang kian terlupakan
Perlahan semua kan menjauh pergi
Tak lagi ada tempat tuk sesali itu semua 

Memang benar nasehat terbaik itu kematian...
Yang menyadarkan hidup di dunia hanya sesaat saja
Angkuh diri dan bangga dunia tak ada guna
Bersiaplah terus perbaiki diri dan menjadi jiwa-jiwa yang tenang
Sambut dan beri senyum dengan lafadz-Nya saat kematian mendekati 

#NasehatTerbaikDariPerginyaSeorangKawan

Kamis, 15 Oktober 2020

Jerawat

 Rasanya sudah ribuan kali istri ngedumel sendiri soal jerawatnya. Setiap lihat cermin, sempat2nya periksa lagi jerawatnya yang padahal dah berkali-kali dilihat, dan bisa ditebak berikutnya bakal ngomong apa.

"Duh jerawatku kok gak ilang2 ya?"
"Capek deh Yah jerawatan mulu...."😑
"Aku kok kayak anak SMA ya jerawatan begini?"
"Apa aku harus ganti skin care kali ya?"
"Aku jadi jelek ya kalo jerawatan begini..."

Buat saya, dumelan itu jadi momen serba salah. Dijawab salah, gak direspon lebih salah.
Misalnya dijawab jujur begini, "Iya sih... kalo jerawatan jadi jelek gitu mukanya..", ya siap2 aja dimanyunin seharian.
Kalo dikasih jawaban cuek kayak, "jerawatan mah biasa aja kali...", eh malah nuduh suaminya gak perhatian lagi.
Apalagi kalo dijawab ngegas, "Emang ganti skin care bakal cepet hilang gitu...?!", yang ditanya malah makin panjang lebar iklanin produk2 skin care yang gak jelas itu.
Dijawab pake pujian jg salah, "Kamu tetap cantik kok meski jerawatan..", dia malah nyinyir suaminya pelit gak mau belikan skin care yg mahal.
Pake jawaban bela diri pun lebih salah, "Mending kayak aku, jarang mandi, gak pernah cuci muka pake sabun, dakinya banyak, tapi gak jerawatan kayak kamu..", langsung dia panggil bala bantuan anak gadis yg gak kalah panjang jelaskan teori jerawat vs perempuan.

Trus kalo didiemin aja gimana?
Tunggu aja ocehan berikutnya..
"Ayah nih istrinya lg ngomong kok dicuekin...!!"
"Kamu tuh ya gak paham kalo jerawatan itu sakit!"
"Ayah enak gak jerawatan, aku kan mukanya sensitif.."
"Dulu aku gak kayak gini lho... dulu mukaku cantik, mulus, gak jerawatan... bla...bla..bla..."
Dan ujung2nya berhenti sendiri karena kecapekan ngedumel ðŸ˜†ðŸ˜†

Tapi kalo belum ilang sebelnya, dicari2 pelampiasan yang lain. Si Juju yg padahal kucing tiba-tiba jadi kambing hitam.
"Gara-gara kamu tuh Ju suka tidur di sofa, aku jadi jerawatan kan!!"
atau balik lagi ke suaminya, "Besok-besok kalo mau tidur kamu mandi Yah, biar aku gak jerawatan!!"




("Ya Allah... salah apa hambamu ini....")

Kalo dah merajuk begitu, terpaksa saya keluarkan jurus pamungkas. Ambil hape, buka mobile banking, trus tunjukkin bukti transfer, dan bilang, "Kira-kira segini cukup gak buat beli skin care?"
Langsung si emak dan anak gadisnya kompak jawab, ".................!" (tebak sendiri aje jawabnya apa) ðŸ˜ŠðŸ˜ŠðŸ˜Š

#TolakJerawatSamaPentingnyaKayak#TolakRUU-OL

Minggu, 11 Oktober 2020

Njelehi Tanpa Baca

Demo tanpa paham apa yg didemokan, itu njelehi....

Sama njelehi-nya... yang men-sahkan tapi gak paham seluruhnya

Demo sampe malam lupa waktu itu njelehi...

Sama njelehi-nya... yang ketok palu tengah malam

Protes keras teriak lantang tapi gak mau baca, itu njelehi...

Sama njelehi-nya... yang gak mampu jelaskan ke rakyat karena sama-sama gak baca


Demo rusuh karena termakan hoax 

Kumpul-kumpul demo di tengah pandemi

Demo rusak fasum paksa kehendak

itu memang njelehi....


Tapi sama njelehinya... 

Yang sengaja buat hoax untuk tutupi kebusukan yang lain

Yang buat UU eh... ternyata kumpul-kumpul juga

Yang katanya bela rakyat, eh taunya terselip kepentingannya sendiri


Ada yang terus mengutuk wakil rakyat, dan tetap bela pendemo

Ada yang hanya menyalahkan pendemo, tapi wakil rakyat gak dikritik

Ada pendidik yang gak mau baca, tapi salahkan mahasiswa yang demo rusuh karena gak baca juga

Ada yang bilang wakil rakyat cerminan rakyatnya, tapi ternyata rakyat demo ya karena wakil rakyatnya

Ada yang bilang pemimpin itu wujud rakyatnya, tapi ternyata pemimpin tak pernah berwujud nyata di depan rakyat

Ada yang maunya cari keadilan di jalanan, tapi gak mau jalani yang konstitusional

Ada yang teriak harusnya konstitusional, tapi ternyata gak bisa jamin adanya keadilan


Ah sudahlah.... kembali saja lihat diri sendiri

Mulai saja dulu dengan membaca

Baca kembali hatimu

Baca kembali apa yang kau tulis dan maknanya

Kemudian pikirkan manfaat apa yang bisa kau beri

Dan renungkan pertanggungan-jawabnya ke Tuhanmu


#BukanProfesorCumaRakyatJelata