Senin, 23 Agustus 2021

Mengapa Tendensius dengan Umat Islam sendiri??

Entah maksud apa yang ingin disampaikan penulis *ISLAM TAPI TIDAK ISLAMI* ini, tapi buat yang memahami bagaimana adab & perilaku kebanyakan Muslim di Indonesia, tulisannya cukup menggelikan.

Di tulisan itu disebutkan segelintir contoh orang Muslim Indonesia yang berbuat tidak sesuai aturan lalu lintas karena menyebrang sembarang dan tidak pakai helm, lalu kemudian dengan tendensius mempertanyakan dimana nilai ke-Islaman-nya.

Lalu sebaliknya membanggakan Negara Selandia Baru yang menurut survey no. 1 Islamicity Index-nya, warga Kanada yang gak pernah kunci pintunya, dan tidak mengambil barang orang lain yang tertinggal di bis, Negara Jerman yang selalu taat aturan, dan tak lupa negara Prancis (di awal abad 20) yang penuh nilai Islami.

Yang paling menggelikan tentu saja kalimat, *“….tapi tolong tunjukkan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”*.

Tak perlu jauh-jauh, kita tunjukkan saja dengan muslim Indonesia aja ya….

Kita mulai dari hadist ini… 

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir...., maka hormati tetangga ... hormati tamu." 

Silahkan dipantau sendiri, apa muslim Indonesia tidak menghormati tetangga & tidak memuliakan tamu?

Lalu hadist berikutnya….

“Seorang Muslim adalah orang yang disekitarnya selamat dari tangan dan lisannya”

"Bicara yang baik atau diam”

Sepertinya penulis ini jarang bepergian jauh…..

Berapa banyak penduduk Muslim Indonesia yang rumahnya gak pernah dikunci karena mereka saling percaya dengan tetangga? 

Berapa banyak orang Muslim Indonesia yang ringankan tangan, infakkan harta, membagi ilmu dengan sesama dan sekitarnya? Bahkan gak membedakan agama, suku, atau ras. 

Coba tengok jauh kebelakang, umat Islam Indonesia rela berjuang paling depan, dan banyak ulama yang memimpin umat tetap memilih tidak tampil di permukaan, tapi selalu mendoakan yang terbaik buat Tanah Air

Jangan pakai indikator riuhnya komentar-komentar nyinyir dari segelintir orang. Mereka itu sama sekali tidak mewakili ratusan juta muslim Indonesia yang memilih diam tak bicara.

Coba lihat kembali begitu banyak dan tetap banyak umat Islam yang saling tolong menolong.

Coba pikirkan lagi, begitu banyak umat Islam Indonesia yang tetap taat aturan meski perut lapar. apalagi hanya sekedar taat pakai helm & taat menyebrang jalan.

Cobalah kembali ke masjid, apa iya selalu hilang sandal kalo pergi ke masjid? Masih banyak tuh malah bawa sepeda gak dikunci dan tetap aman sampai pulang selesai sholat jamaah.

 

Biar berimbang, coba tengok Selandia Baru. Belum lama ini disana ada seorang rasis yang tega menembaki Masjid. 

Coba deh sekali-kali main ke Jerman atau bagian Eropa manapun. Disana tetap aja berkeliaran pencopet dan bau kencing di banyak sudut jalan.  

Rasakan juga di Prancis sekarang. Di sana juga masih ada diskriminasi rasisme. 

Atau jalan deh ke Kanada yang penduduknya dingin & sunyi. Lah ya emang disana penduduknya jarang, dan hawa dinginnya sepanjang tahun.

Umat Islam tidak anti kritik, tapi mbok ya jangan pake logika terbalik dan sesat pikir. Kelakuan segelintir orang yang salah dianggap mewakili umat Islam secara keseluruhan.

Sampaikan tulisan yang berimbang kalo ingin membandingkan sesuatu. 

Beri penjelasan dan argumen yang pas & sesuai, supaya umat Islam menjadi lebih baik tanpa perlu saling dibenturkan.

Akhirul Kalam….

"Keutamaan Islam seseorang..., adalah yang meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat”. 

Jadi mohon maaf…. Setelah ini saya tinggalkan tulisan *ISLAM TAPI TIDAK ISLAMI* untuk bagian tulisan yang tidak bermanfaatnya… 😊

Wassalamualaikum wr wb

Dari saya yang mencintai Muslim lainnya

Senin, 26 Juli 2021

Maknai Kematian

Ambillah pelajaran dari kematian....

Agar lisan ini tak hanya sekedar ucapkan Innalillahi wainna Ilaihi rojiun

Atau tangan ini tak sekedar saja tulis kata turut berduka cita

Atau hanya sekedar bertanya-tanya mengapa kematian datang begitu cepat

Tapi tanpa sedikitpun memaknai kematian itu sendiri, dan lalu tenggelam lagi dalam riuhnya dunia ini...


Sampaikan pesan kematian itu jauh ke benakmu...

Perhatikan bagaimana akhir yang indah bagi jiwa yang baik

Amati bagaimana kesudahan yang buruk bagi jiwa yang penuh noda dosa

Pelajari apa amal perbuatan sepanjang hayat yang menemani akhir hidupnya

Lalu persiapkan bekal terbaik kematian kita sendiri..

Karena pada akhirnya kita pun akan mengalami yang sama


Tanamkan makna kematian ini ke hatimu..

Kematian itu datangnya tak pernah terencana

Tak pernah tunggu purnanya ikhitiar diri ini

Tugas kita hanya lakukan ikhtiar terbaik

Upaya untuk tetap sehat badan dan pikiran

Usaha untuk terus semakin baik dan taat

Tekad untuk mampu jauhi dosa dan cegah mungkar

Dan terus tawakal menuju takwa

Serahkan saja urusan kematian pada Pemilik Jiwa-mu


Tampakkan arti kematian ini di sikapmu..

Jadilah jiwa yang tenang...

Ridho dengan ketetapan Allah apapun jalan hidupmu

Legakan hati dengan semua sesak yang ada

Ikhlaskan semua akhirnya setelah lakukan ikhtiar yang terbaik.

Dan bila saatnya tiba, sambutlah dengan hati yang rindu.


Karena sesungguhnya sambutan Allah di surga-Nya hanya bagi yang di-ridhoi Allah dan mereka yang juga ridho dengan ketetapan-Nya...

Biar Kematian Beri Nasehat Terbaik

Dalam beberapa minggu terakhir, tak cukup sudah jari tangan menghitung brapa banyak saudara, kerabat, kawan, kenalan yang telah kembali ke Pemilik Jiwa-nya. Dan jujur aja, selama itu pula seakan lidah jadi kelu berucap dan tangan jadi kaku untuk menulis:

"Innalillahi Wa Inna Ilaihi rojiun.."

Runtutan kejadian ini membuat saya kembali merenungkan banyak hal tentang makna kematian. Saya jadi membayangkan seandainya kematian dialami oleh diri ini.

Kematian diri ini bisa jadi hanya ditangisi keluarga terdekat, sekadar diucapkan bela sungkawa oleh rekan sejawat di medsos, diziarahi sejenak oleh kerabat, dikirimi karangan bunga yang wanginya hanya beberapa hari. Kemudian semua berangsur melupakan diri ini, kembali disibukkan dengan riuhnya dunia. Dunia tetap berjalan seakan-akan diri ini tak pernah ada.

Kembali dengan canda tawa dan tak ada pelajaran yang diambil tentang makna hidup dan kematian.

Tinggallah diri ini sendiri menghadapi Yaumul Akhir, mempertanggung-jawabkan semua kelakuan di dunia. Pada hari itu seluruh ayat Qur'an membuktikan diri benar adanya.

Pada hari itu, ayah tak peduli anaknya, dan anak pun tak peduli ayahnya. Semua sibuk menghisab dirinya sendiri.

Bila kita berbuat baik, kebaikan itu kembali ke diri ini.

Sebaliknya bila kita mungkar, kufur, munafik, fasik; itu semua juga akan kembali ke diri ini.

Tak ada satupun yang tahu kapan datangnya kematian itu, kecuali Allah Pemegang Jiwa kita.

Kematian itu mengajarkan kita sama sekali tak punya kuasa atas diri ini.

Bila diri ini saja tak mampu kita kuasai, apalah kita yang tak juga sanggup ubah insan lain

Kita hanya sekedar pemberi nasehat, tak mampu berbuat lebih

Biar berita kematian yang mengambil peran, memberi nasehat terbaik tuk bisa dipahami maknanya...

Jumat, 11 Juni 2021

Wedjang Kopi - Hanya Penyampai

Kau hanya penyampai kebenaran

sekedar penyebar kebaikan

hanya pemberi tahu apa yang mungkar

Kau sama sekali bukan penentu takdir seseorang
Tak mampu ubah arah menuju benar
Tak sanggup balikkan jadi kebaikan
Tak bisa bendung terjadinya mungkar

Tak perlu kecewa bila upayamu ditolak
Tak perlu marah saat tak diindahkan ucapmu
Tak perlu sedih meski akhirnya tak berjalan seperti petuahmu

Itu semua tuk tunjukkan bahwa Allah-lah penentu takdir makhluk
Kau hanya sebentuk makhluk yang tak kuasa mengubah makhluk lainnya
Agar kau tak selalu merasa terhebat
Agar kau tak jumawa dengan kebaikanmu
Agar kau tak merasa tinggi dengan shalihmu
Agar kau tak lupa diri kau tetap harus menghamba

Terus perbaiki diri dan jangan lengah..
karena bisa jadi diri ini yang tak lebih baik
Terus berbenah dan tak lelah menjadi penyampai kebenaran...

#kedai kopi Sidoarjo 300521 -w/ IKW

Rabu, 09 Juni 2021

Wedjang Kopi - Sumeleh

Sumelehkan hidupmu...

Ikhlaskan semuanya
Terima saja ketetapan-Nya
Relakan apa yang terjadi
Biarkan berjalan sesuai kehendak-Nya

Tak perlu bertanya kenapa
Resapi saja maknanya

Sederhanakan keinginanmu
Tapi bersungguhlah pada upayamu
Terus berdoa dan berpasrah diri
Sempurnakan ibadahmu

Tak perlu bertanya kapan saatnya
Kau akan tau bila saatnya tiba

Ridha-lah pada Allah... pasti Allah akan ridha padamu

@balkon warkop pwkt 290521 -w/DS

Selasa, 08 Juni 2021

Wedjang Kopi - Jaga Qur'an

 Selalu jaga Qur'an-mu

Tetaplah baca Qur'an-mu
Sesibuk apapun dirimu
Sesempit apapun waktumu
Seenggan apapun niatmu

Tak ada paksaan untuk selalu baca Qur'an... tapi justru itulah yang membuatnya luar biasa

Saat terus baca Qur'an-mu, kau jaga qur'an dekat dirimu
Kau hafal Qur'an-mu, selamanya akan ada di hatimu
Kau pahami Qur'an-mu, akan tercermin dalam keseharianmu

Jaga Qur'an-mu... dan Allah akan menjaga hidupmu.

teras rumah pwkt 290521 - w/ DS


Senin, 07 Juni 2021

Wedjang Kopi - Saat Banyak Masalah

Saat kau merasa banyak masalah... segera datangi masjid saat subuh...

Bangunlah lebih awal dan segera mandi lalu berwudhulah. Rasakan kesegaran airnya...
Kenakan pakaian terbaik karna engkau akan berkunjung ke rumah Allah...

Segera menuju masjid & nikmati setiap langkah kakimu. Hirup sejuknya udara pagi...

Sembari jalan, coba petik sehelai daun atau segenggam rumput. Ciumlah harumnya dan resapi embunnya...

Segarnya air, ringan langkahmu, sejuknya udara, harumnya embun daun itu nikmat datangnya fajar dari Allah...

Saat masuki masjid, ucapkan salam dan rasakan hangatnya sambutan Allah dirumah-Nya...

Sholatlah dua rakaat sebelum subuh tuk dapat kemuliaan yang melebihi nikmat dunia dan seisinya...

Saat berjamaah, nikmati subuhmu dan luapkan semua resahmu dalam doa terbaikmu...

Bila sebelum subuhmu saja kau sudah dapat nikmat fajar & kemuliaan seisi dunia, tak perlu lagi risaukan masalah duniamu...

@kedai kopi sidoarjo 300521 - w/ IKW