Selasa, 13 Februari 2018

Spaghetti Rasa Mie Rebus Telor

Seperti biasa, setiap hari minggu kami memasak sendiri di rumah. Untuk hari minggu kemarin, Mama sudah rencanakan untuk memasak Spaghetti Carbonara. Kebetulan ada saudara datang berkunjung, kali ini porsi memasaknya ditambah. Sebelumnya, Mama gak pernah pernah buat Spaghetti Carbonara untuk keluarga. Setelah mencari resepnya di Google, sehari sebelumnya kami siapkan bahan-bahannya.

Sesuai petunjuk resep di internet, bahan-bahannya adalah Spaghetti, susu cair, margarin, keju, bawang bombay, bawang putih, bubuk maizena, irisan tipis daging sapi, dan telor. Kami siapkan semua bahan-bahannya sesuai resep. Mulailah kami memasak bersama menjelang jam makan siang. Untuk memasaknya, kami semua berbagi tugas.

Pertama, Kakak Nawa yang rebus spaghettinya. Sembari menunggu, bawang Bombay dan bawang putih dikupas dan dipotong kecil oleh Mama. Tidak lupa Mey yang potong memanjang irisan daging sapi. Farrel yang potong-potong kejunya dan Ayah yang aduk-aduk telornya.  Setelah selesai, kami panaskan wajan dengan margarine, kemudian kami tumis sebentar bawang dan irisan daging bersamaan. Setelah berubah warna, dituangkan susu, irisan keju, dan yang terakhir adukan telor. Setelah semua tercampur rata, akhirnya saus spaghetti siap. Berikutnya tinggal meniriskan rebusan spaghetti untuk disajikan di piring.

Kami membayangkan spaghetti carbonara buatan kami akan sama specialnya dengan yang ada di restoran. Tapi setelah dimakan, malah terasa seperti mie instan rebus telor. Ternyata ada kesalahan di dalam resep. Seharusnya untuk memasak saus spaghetti seharusnya tidak pakai telor. Tapi biarlah, yang terpenting kami sudah memasak bersama dan bisa menikmati makanan yang ada meski sebenarnya gagal memasak Spaghetti Carbonara rasa restoran. 



Minggu, 28 Januari 2018

Derai Derai Cemara (Sinopsis Puisi Charil Anwar)

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949
Karya Chairil Anwar


Bila menilik kehidupan Chairil Anwar, puisi Derai Derai Cemara ini dibuatnya saat Sastrawan itu sakit menjelang kematiannya. Chairil Anwar meninggal saat berumur 27 tahun karena menderita TBC. Saat itu hidupnya tengah dirundung masalah karena sang istri meninggalkannya dan meminta cerai saat anaknya baru berumur 7 bulan.

Puisi ini menunjukkan kegundahan dan kegelisahan hidup Chairil Anwar yang merasa waktunya di dunia tidak lama lagi. Pilihan kata-kata dalam puisi sederhana, namun tak biasa digunakan orang awam sehingga menimbulkan kesan yang mendalam yang tak mudah dipahami. Kekuatan lainnya puisi ini adalah menggunakan rima yang teratur dibandingkan karya puisinya yang lain.

Puisi ini terdiri dari tiga bait dimana masing-masingnya terdiri dari empat baris yang berima teratur. Bait pertama menunjukkan metafora episode kehidupannya dirasa akan berakhir tak lama lagi. Dia metaforakan dirinya bagai cemara tinggi yang merapuh karena dahannya banyak yang jatuh ditiup angin. Dan akhir kehidupannya diibaratkan malam yang akan menjelang.

Pada bait kedua, dia menceritakan bagaimana dia mencoba menerima kesengsaraan hidup dengan mencoba bertahan. Dia tak lagi seperti saat kanak-kanak yang tak mau mengalah karena tingginya ego diri yang dulu dibanggakan.

Pada bait ketiga, Chairil Anwar mencoba merangkum kisah hidupnya yang mengisyaratkan penuhnya kesengsaraan hingga akhir hayat yang membuat dia menyatakan Hidup hanya menunda kekalahan. Dia merasa terasing dari kehidupannya karena tidak ada cinta dari orang terdekatnya. Dia seakan menyimpan banyak hal yang sebetulnya ingin diungkapkan namun akhirnya kematian lebih dulu datang.

Karena puisi ini dibuat sesuai dengan isi hati Chairil Anwar menjelang dia meninggal, pembaca seakan-akan dibawa pada pedihnya kesengsaraan yang dialam sang sastrawan. Terasa sekali gelapnya puisi ini yang menyadarkan pembaca bahwa segala yang bernyawa akan mati pada saat waktu yang ditentukan. Meskipun demikian, tetap semangat jalani hidup dan tidak cepat putus asa.

#demi PR anak gadis
#yg punya PR siapa, yg kerjakan siapa 😑

Rabu, 24 Januari 2018

Keshalihan Anak


Sejatinya.., keshalihan anak adalah persembahan hadiah untuk kebaikan orang tuanya.

Jangan pernah salah memaknai keshalihan anak. Ini bukan imbalan yang didapat orang tua karena upaya kerasnya mendidik anak untuk rajin sholat 5 waktu, mudahkan langkah ke masjid untuk berjamaah, luweskan lafadz untuk terus mengaji dan menghafal Al-Qur’an, ringankan tangan untuk saling membantu dan bersedekah. Shalihnya anak bukan pula jadi alasan kebanggaan ayah ibunya yang merasa memiliki sang anak.
Mendidik anak menjadi shalih itulah fitrah orang tuanya. Tak peduli nanti pada bagaimana hasil akhirnya, yang terpenting adalah prosesnya. Proses panjang yang akan sangat melelahkan yang mungkin baru akan berakhir saat ajal menjelang.
Rajinnya anak untuk sholat, Indahnya bacaan Qur’an anak, Santunnya perilaku anak sejatinya adalah hadiah dari Allah yang luar biasa baik buat kita sebagai orang tuanya. Allah tahu bahwa kita masih butuh imbalan dari shalihnya anak. Allah tahu justru kita yang masih butuh sanjungan orang lain tentang shalihnya anak. Allah paham bahwa predikat shalih anak membuat kita bangga dan makin membuat kita termotivasi untuk terus menjadi baik. Allah paham betul dimana tingkat keikhlasan kita dalam mendidik anak. Dan harus disadari tingkat keikhlasan kita masih ada di level yang rendah.

Coba bayangkan apa jadinya kita bila proses mendidik anak kita terasa sangat sunyi dan membosankan. Kita sudah bermuhasabah diri untuk bertekad ubah diri kita dan mulai hijrah, tapi seakan tak ada yang mendampingi. Harus berulang kali ingatkan anak untuk sholat, berlaku santun, rajin baca qur’an, tapi seakan tak ada perubahan berarti. Berulang kali kita merasa kita sudah lakukan yang benar, tapi terasa salah karena tak bisa bawa anak atau pasangan sendiri untuk ikut perbaiki diri dan berhijrah.

Jadi buat kita yang saat ini merasa beruntung miliki anak shalih, nikmati saja dulu saat ini. Siapkan diri untuk mulai fase selanjutnya. Istiqamahkan anak untuk tetap shalih, meski makin hari makin tak ada yang memuji dan belum tentu akan dimudahkan hidupnya. Makin banyaknya hafalan Qur’an anak, makin rajinnya ibadah dan sedekah anak mungkin tak berbanding lurus dengan banyaknya pujian orang dan makin mudahnya hidup. Harus bersiap kalo akan berjalan berbanding terbalik.

Justru di fase inilah kesejatian cinta kepada Allah akan naik kelas. Cinta Allah itu absolut, tak perlu meributkan riuhnya duniawi. Hidup dan Penghidupan hanya Allah yang tentukan. Kemampuan mengikhlaskan atribut duniawi jadi bukti hanya untuk dan kepada Allah-lah kehidupan kita. Atribut dunia hanya sekedar pelengkap jalani proses ketaatan hidup yang diatur Allah

Terasa berat? Itu pasti...! Tapi kita tahu Allah yang mengatur. Cuma Allah yang paham ada ditingkat mana diri kita. Jadi..., tak perlu berbangga hati bila semua terasa baik, itu semua karena Allah masih memanjakan kita....

Banyaklah bersyukur untuk saat ini.... Karena hakikatnya ke-bersyukuran itu akan teruji saat kenikmatan dunia mulai digantikan dengan nikmatnya keikhlasan.

Semoga tetap semangat didik keshalihan anak.... 

#SyukurRamadhan

Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) - Ad-Dhuha : 11

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan shalih yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. - Al-Kahfi : 46


......Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa - Al- Furqaan : 74

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh(HR. Muslim )  

Updated : 31 May 2018






Senin, 18 Desember 2017

Asyiknya Fun Walk bersama


Minggu lalu (171217), sekolah anak-anak adakan acara Fun Walk di area CFD Bintaro. Dari sejak sabtu pagi, Mey & Farrel sibuk ingatkan ayah & mamanya untuk bangun pagi di hari minggu. Biasanya minggu memang jadi hari santai & bermalas-malasan setelah seminggu banyak kegiatan. Tetapi untuk minggu kali ini bakal banyak aktifitas seru.

Meski sabtu malam tidur larut malam karena nonton bola di TV, Farrel langsung sigap dibangunkan jam 4 pagi untuk sholat subuh di masjid. Selesai subuhan, ayah & Farrel santai dulu di depan TV sembari sarapan karena ternyata Mey udah ada di kamar mandi selesai sholat subuh. Biasanya memang anggota keluarga Laki-laki dapat giliran mandi terakhir karena Mey, Kakak Nawa, & Mamanya kalo di kamar mandi bisa lebih dari setengah jam.

Meski agak telat 15 menit karena kakak Nawa dan Mama kelamaan dandan, akhirnya semua siap jam 6.15 pagi. Kami sudah siapkan kantong sampah dan sarung tangan higienis. Sesampai di area CFD, kami bersihkan sampah-sampah yang ada di mobil dahulu karena kebersihan harus dimulai dari keluarga sendiri. Setelah itu, kami langsung berbaur dengan banyak keluarga besar SD Budi Luhur yang sudah lebih dulu memadati jalanan area CFD.

Kami kompak kenakan sarung tangan di sebelah kiri untuk mulai punguti sampah yang ada di jalanan. Di area CFD, sebetulnya jalanan relatif sudah bersih karena selain ada petugas kebersihan, sudah banyak keluarga SD Budi Luhur yang sigap lebih dulu memunguti sampah. Kami hanya memunguti sampah kecil dan wadah bekas susu yang kami beli dari pedagang keliling. Jadilah kami malah sibuk foto selfie-selfie sembari jalan ikuti rute. Karena hati riang & sejuknya pagi, rute berjarak 4 kilometer jadi tak berasa.
Selesai fun walk, kami makan nasi kuning yang dibagikan panitia. Tak lupa, bungkus bekas makanan dan sampah yang telah dikumpulkan dibuang di kotak sampah anorganik. Melalui acara ini, anak-anak jadi paham bahwa kegiatan apapun yang kita lakukan akan jadi menyenangkan apabila tempatnya terjaga bersih dan bebas dari sampah. Semoga anak2 menjadi disiplin dan terbiasa untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan.


Senin, 27 November 2017

Meminta maaf


Suatu sore, Ale ngambek dan marah-marah ama Mamanya karena disuruh cuci piring di dapur. Cuci piring memang tugas Ale setiap akhir pekan. Karena piring kotornya banyak, Ale jadi capek dan kesal. Mukanya ditekuk dan ngomel-ngomel sendiri.

Setelah agak tenang, Ayah bujuk Ale untuk minta maaf ama mamanya. Ale awalnya menolak dan makin manyun. Tapi setelah diberi pengertian bahwa semua anggota keluarga harus saling bantu berbagi tugas untuk kenyamanan bersama, akhirnya Ale mau mengucap kata maaf.
Meminta maaf sebetulnya sesuatu yang mudah, tapi mengalahkan ego untuk tidak merasa salah itu berat. Untuk dapat menjadi pribadi yang baik, anak-anak harus dilatih mengalahkan egonya sendiri dan biasakan meminta maaf bila lakukan kesalahan.

Kerjakan PR bersama


Minggu sore, biasanya jadi hari paling sibuk buat kakaknya Nawa. Itu karena banyaknya PR yang harus dikerjakan untuk dikumpulkan besok hari Senin. Untuk tugas PR menulis, biasanya dilakukan sendiri. Tapi untuk tugas keterampilan, biasanya kakak Nawa minta bantuan Meysa.

Meysa memang biasanya sudah selesai kerjakan tugasnya sendiri dari hari Jumat sore. Jadi sabtu-minggu selalu siap sedia bila diminta bantuan.

Kali ini kakak Nawa minta bantuan untuk mengerjakan tugas prakarya DIY. Mesya bantu kakaknya siapkan bahan-bahannya, ikut menghias dan menempelkan aksesoris, dan merapikan semua peralatan setelah tugas selesai dibuat.

Meysa tidak meminta imbalan apapun dari kakaknya. Dia senang membantu kakaknya karena dia bisa belajar melatih keterampilan membuat sesuatu dari barang yang tidak terpakai.

Selasa, 21 November 2017

Setan Kredit

Entah kenapa saya begitu terganggu dengan iklan kredit online. Setengah jam perjalanan KRL, paling enggak lima kali iklan itu diulang-ulang. Mungkin sudah puluhan kali terpaksa saya dengar (ya sesekali akhirnya saya lihat juga sih). Iklan itu tawarkan kredit yang mudah. Tinggal ajukan secara online, gak perlu jaminan, bunga terjangkau (bukan bunga ringan ya), gak butuh persetujuan, dan langsung jadi. Seakan-akan iklan itu coba cuci otak penumpang KRL kalo sekarang ajukan kredit itu mudah dan gampang. Tinggal klik sana klik sini buat belanja barang yang diinginkan (meski kredit), sampe deh ditangan barangnya.

Di saat secara gak sadar kita yakini kredit itu akan selesaikan masalah (terutama soal keuangan), ya disinilah masalahnya. Kita digiring untuk beli sesuatu yang diinginkan (bukan dibutuhkan) dengan kredit yang seakan-akan ringan untuk dicicil. Padahal pada hakikatnya, kredit itu adalah hutang. Hutang itu ya seharusnya (terpaksa) dilakukan untuk penuhi kebutuhan. Itupun juga harus diiringi syarat hutang itu mampu kita bayar kembali. Jadi silahkan berhutang kalo memang kita butuh dan mampu untuk bayar hutang.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bolak-balik kredit (hutang) karena pengen sesuatu, cicilannya berat karena bunganya tinggi, ujung-ujungnya malah gak mampu bayar. Barangnya belum selesai lunas dibayar, eh malah barangnya rusak atau lenyap duluan.
Coba dipikir lagi sudah berapa kali kita pernah ajukan kredit. Pas umur 20-an, udah mulai kredit motor & gadget (yang bunga 0% persen promosinya). Karena belum ada penghasilan, terpaksa orang tua yang bayarin cicilannya. Pas mau nikah, kredit lagi buat bayarin nikah. Jadi kebayang pas akad nikah bakal bilang gini, “Saya terima nikahnya Yayang bin Mertua dengan seperangkat alat sholat Tunai!! Ups salah... masih kredit sih sebenernya Pak.. (sambil bisikin pelan ke penghulunya)”J
Abis nikah, kepikiran lagi untuk kredit rumah 15 tahun. Baru jalan setahun, gatel lagi kredit buat isi rumah. Dari perabot rumah, TV, kulkas ampe mesin cuci (plus gadget lagi...). Gak sampe 5 tahun berikutnya, udah kepengen punya mobil. Ambil leasing yang bunganya gila-gilaan karena pengen jalan-jalan pake mobil sendiri (that’s Indonesian dream). Gaji habis cuma buat bayar cicilan. Dalihnya, kalo gak nyicil gak bakal bisa punya apa-apa. Jadi gak semangat kerja buat cari duit.
Umur 30an atau 40an, hobi kredit gak juga mo berhenti. Pengen plesiran, tinggal gesek atau cukup klik online kredit. Naik haji atau umroh-pun pake kredit. Padahal udah jelas-jelas ibadah haji itu hanya buat yang mampu. Trus kredit lagi buat investasi tanah, rumah, apartemen yang katanya gak bakalan rugi karena (perkiraan) imbal hasilnya lebih tinggi dibanding bunganya.
Di saat pensiun di akhir umur 50-an semua cicilan baru bisa lunas. Katanya disitu kita bisa menikmati hidup dari hasil bekerja selama puluhan tahun. Padahal, saat anak-anak udah mulai besar, lingkaran setan kredit berulang lagi. Bukannya nikmati hidup, malah terpaksa bayarin hutang kredit anak-anaknya. Sedari kecil, anak diajari secara gak sadar ama bapak-ibunya bahwa kredit menyelesaikan semua masalah, akhirnya gak pernah paham gimana nikmatnya rasakan hasil kerja keras dan bersabar. Terlahirlah anak-anak instan yang menuntut segalanya ada tanpa susah payah berusaha. Akhirnya aset investasi terpaksa dijual buat bayar cicilan lagi dan biaya pengobatan karena stress pikirin hutang yang gak pernah selesai.
Alam bawah sadar kita terus meyakini bahwa gak ada yang salah dengan kredit yang selama hidup menghantui kita. Malah hantu itu yang terus dijadikan teman. Hantu yang terus meminta sesajen duit cicilan. Telat kasih sesajen, kenikmatan hidup terpaksa dicabut. Kalo duit gaji halal gak cukup untuk bayar sesajen, yang ada dipikiran cuma ada tiga pilihan. Cari hantu (kredit) yang lebih besar biar tutupi yang lama, meminta pinjaman ke keluarga/teman dekat yang entah kapan bakal dibalikin, atau terpaksa makan duit gak halal korupsi jadi kebiasaan.
Padahal jaman old tuh, gak ada yang namanya kredit segampang ini. Pengen beli motor, mobil, rumah harus nabung dulu bertahun-tahun. Makanya dulu jalanan lancar jaya, gak macet berjam-jam macem sekarang. Harga rumah dulu juga gak gila-gilaan digoreng kayak sekarang.
Kalo orang jaman old bisa bilang tetap mampu hidup tanpa hutang, trus kenapa orang jaman now gak yakin bisa hidup kalo gak punya hutang? Emang gak yakin ama Allah yang Maha memberi kecukupan?
Kalo ceritanya udah gini, yakin gak mau berhenti dari kredit? Ini belum cerita soal dosa riba lho... J