Selasa, 13 Agustus 2019

Sosok Hijrah

Berulang kali saya dibuat kagum dengan sosok-sosok yang bulatkan tekad untuk total hijrah. Sosok ini hanya bisa dijumpai pada pendosa yang tersentuh hatinya untuk bergerak berubah. Pada sosok inilah energi hijrah meluap-luap. Alasan mengapa mereka berhenti jadi pendosa dan tujuan setelah hijrah itu selalu menarik dan beri semangat saya untuk terus di jalan ini.

Ada kawan yang bertahun-tahun menjadi peminum, keluar-masuk klub malam, dan hampir semua orang mengutuki kelakuannya. Tiba-tiba dia rajin hadir di masjid, datang sebelum adzan dimulai, dan pilih sisi sudut masjid untuk bertafakur. Berangkat ke masjid jam 3 pagi pun dijalani, mau tahajud sekalian subuhan katanya.

Ada juga kawan penjudi yang tak pernah kapok. Dia bilang judi itu ibarat hidup, ada kalah dan menang. Sampai pada suatu titik, dia kembali ke masjid. Selalu rajin sholat jamaah dan dipastikan ambil tempat shaf terdepan, meski bukan bukan tepat di belakang imam.

Sosok lain ada juga sahabat yang dari dulu doyan menumpuk harta yang diragukan halalnya, ya dari kolusi, korupsi, pat gulipat, atau semacamnya. Sekarang berubah jadi rajin sedekah dan hidup bersahaja.

Jenuh. Itu titik balik mengapa mereka berhijrah. Mereka jenuh dengan dosa yang dilakukan. Bosan mereka dengan belenggu dosa yang berulang-ulang. Sang Peminum gak dapat tenang dari tegukannya. Si penjudi gak dapat senang dari menangnya. Penumpuk harta gak dapat bahagia dari banyaknya harta.

Dulu saat jadi peminum, penjudi, penumpuk harta tak seorang pun yang mampu menasehati. Meski perut jadi buncit dan penyakit udah menumpuk, terus aja lanjutkan minum. Meski sudah habis-habisan karena kalah judi, tetap aja pasang taruhan sampai rasakan menang yang menagih. Meski harta benda sudah banyak, sepertinya tak memuaskan nafsunya.

Sekarang semua berbeda, mereka jadi rasakan seperti apa hidup yang tenang, senang, dan bahagia yang sebenarnya. Satu-satunya penyesalan yang tersisa hanya tinggal satu, kenapa hijrah total ini tidak dilakukan sejak dulu. Energi mereka untuk kembali baik benar-benar all out.

Kalau dulu mereka pecinta dunia, sekarang perindu akhir yang baik. Cita-cita nanti di akhir hidup pun tak muluk-muluk. Suatu saat nanti, sang mantan Peminum ingin meninggal saat pergi melangkah ke masjid, bekas Penjudi ingin mati saat sedang sholat, dan eX-Penumpuk Harta ingin tinggalkan dunia saat sudah sedekahkan semua harta.

Hijrah tak cukup hanya sekedar berubah karena ikuti arus perubahan. Hijrah butuh konsistensi untuk terus istiqamah. Hijrah butuh kawan-kawan baru yang berikan dorongan energi untuk terus mengalir dinamis agar tak membosankan.

Untuk semua yg masih tenggelam dosa, ayo segera berubah. Kita semua butuh kalian berhijrah agar berikan dorongan energi itu. Tak perlu tunggu hidayah karena berubah itu tentang bergerak, bukan digerakkan. Bergerak ke kebaikan akan menggerakkan langkah kebaikan lainnya.

Untuk kawan yang sudah bersama berubah, tetaplah di jalan ini karena kalian dibutuhkan untuk membersamai iringi langkah ini dan saling mengingatkan-menguatkan untuk akhirnya temui ujung yang baik.

#JalanHijrah
#MulaiAjaDulu

Berpulangnya Seorang Kawan

Berpulangnya seorang kawan jadi pengingat bahwa ternyata hidup ini singkat, hanya tempat persinggahan sementara....
Tak perlu lama menunggu satu per satu kawan & sahabat tinggalkan kita lebih dulu di dunia ini
Nanti juga akan tiba giliran kita yang menuju kesana...

Bersiaplah... karena tak lama lagi kita juga kan menuju kesana.
Siapkan dengan baik amal kita... karena cuma itu yang akan terus menemani.
Kawan atau bahkan keluarga sendiri tak akan selamanya disamping kita
Jabatan dan kekayaan akan langsung tanggal sesaat setelah ruh terlepas dari jasad...
Hanya doa anak shalih, ilmu yg diamalkan dengan baik, dan harta yg disedekahkan yang akan terus mengalir kebaikannya ke diri kita

Selamat jalan kawan... kupersaksikan kau orang baik. Hanya orang baik yang akan kembali ke kebaikan. Semoga kita bisa berkumpul disana dengan orang-orang baik lainnya. Panggil-panggil namaku jika tak kautemui aku di kumpulan itu nanti disana...


#kawan Sukabumi 10 Agt 2019

Senin, 29 Juli 2019

Rindu Lelaki

Jangan kau tanya bagaimana rindu lelakimu ini
Rindu ini sama seperti yang kau rasakan
Hanya saja rindu ini seperti tercekat di leher
Tak mampu diungkapkan dengan kata

Akhirnya ku rasakan lagi rindu seperti ini
Yang kuingat ini sepadan dengan rasa rinduku padamu
Saat kita dulu terpaut jarak dan waktu
Tapi rindu kali ini berbeda warnanya

Bagaimana mungkin aku tak rindu padanya
Dia yang temani langkah subuhku
Dia yang ajak kembali renungi kalam-Nya
Dia yang selalu bergegas saat kumandang adzan
Dia lelaki kecil wujud diriku dan dirimu

Tapi biarlah rindu ini akan ciptakan rindu yang sama pada lelaki kecilku
Rindu yang ingatkan dia indahnya cinta melebihi nikmat dunia
Rindu yang akan berubah wujud jadi mustajabnya doa
Rindu yang akan luapkan energi kebaikan

Biar saja kutahan rindu ini agar terbangun ketangguhan, tak hanya buat dia tapi juga buatku
Biar kubelai rindu ini agar menjelma jadi ruang hati yang akan terus terhubung
Sebagai pengingat bahwa makin baiknya aku akan terwujud ke dirinya, dan lumur dosaku akan mengotori kakinya yang menuju kebaikan
Biar saja kupeluk rindu ini agar berbuah jadi doa tulus yang menghantar pada indah lantunan kalam-Nya yang tersimpan lama di benaknya
Biar saja kuserahkan rindu ini pada pemiliknya ...

Sabarlah... ini takkan lama untuk merubahnya menjadi Lelaki seutuhnya
Lelaki yang akan kau rindukan kebaikannya dan kau banggakan kerendahan hatinya
Sama seperti rindu dan bangganya dia padamu
Lelaki yang paham bahwa hidup harus diperjuangkan dengan sabar dan tawakal
Supaya mampu dia tebar kebaikan dari buah perjuangannya
Relakanlah... karena ini butuh pengorbanan yang akan membuat ruang kesabaran baru bagi kita berdua

Rabu, 01 Mei 2019

Kemenangan Semu Semar

"Priit...priit...priiitt...!"
Pertandingan bola pun berakhir. Letusan mercon memenuhi stadion. Kurawa bersorak sorai. Bising sekali terasa di telinga. Asap mercon menyelimuti seluruh stadion membuat pandangan berkabut dan perih di mata. Skor di papan tunjukkan Punokawan unggul, entah beda 10 atau 8 poin karena masih terlihat samar.

Meski menang skor, Punokawan tak perlihatkan raut muka cerah gembira. Terlebih lagi Semar yang di ujung tiang gawang. Kepalanya menunduk sembari berulang kali gelengkan kepala seakan tak percaya apa yang terjadi. Bagong yang sejatinya jelmaan Semar juga terlihat bingung dan hanya mampu goyangkan pinggulnya. Gareng-pun berjalan pincang karena berulang kali tersandung di sisi lapangannya sendiri. Hanya Petruk yang terlihat sunggingkan senyum kecilnya.

Di sisi seberang, Pandawa menatap nanar. Arjuna tak mampu lagi berkata-kata dan tak berdaya, seluruh badan seakan remuk seperti saat perang Baratayuda yang lalu. Sadewa yang saat pertandingan di kartu merah tak mampu redam emosinya. Untungnya ada Nakula yang menenangkan. Bima pun sempat terlepas emosinya dan teriakkan Pandawa-lah pemenang sebenarnya. Hanya Yudisthira yang menahan diri tetap tenang dan merenung.

Di luar stadion, sebagian Baladewa terpaksa pulang menunduk lesu. Entah apakah ini hanya bentuk kekecewaan sesaat atau akan jadi depresi berkepanjangan. Di lingkar luar stadion, Baladewa malah disuguhi pemandangan ratusan karangan bunga yang sengaja dipersiapkan Kurawa jauh sebelum pertandingan dimulai untuk merayakan kemenangan semu Punokawan. Tak lupa puluhan baliho propaganda klaim kehebatan Petruk dikibarkan.

Baladewa emak militan mulai lancarkan protes. Dengan memakai daster, bertopi dandang, dan bersenjatakan sapu, mereka menuntut Komite Pertandingan memutar ulang VAR dari sejak peluit berbunyi. Komite Pertandingan meminta bersabar dan hanya menawarkan untuk menggunakan VAR dari satu kamera saja. Baladewa tak sudi karena mereka pegang bukti kecurangan yang terlihat dari banyak kamera VAR yang ambil gambar seluruh sudut. Entah seberapa lama nantinya Baladewa emak militan ini bisa bertahan.

Bagi Pandawa, memenangi pertandingan ini  besar artinya. Pemenang pertandingan akan berhak penuh atas stadion. Ini momentum yang akan dimanfaatkan Pandawa untuk merenovasi stadion dan menambah kapasitasnya. Pandawa ingin stadion menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi semua, tempat Baladewa dan Kurawa rukun bercengkrama dan saling bercerita seperti sedia kala karena mereka terlahir dari garis darah yang sama.

Satu purnama silam, Petruk memang memenangi pertandingan, tapi sebenarnya Duryodana-lah yang jadi penguasa stadion. Sejak berkuasa, aura stadion menjadi berbeda. Aroma busuk menyeruak dari banyak sisi meski tampilan stadion terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Tak mampu Petruk singkirkan tikus dan kecoa yang memang dipelihara Duryodana. Ditambah lagi disisakan beberapa sudut ruang yang dibiarkan gelap dan kotor. Ruang itu memang diperuntukkan bagi para siluman kawan karib Duryodana. Tribun pun disekat-sekat yang membuat penonton terpecah jadi dua kubu yang bersebrangan.

Selepas pertandingan, Petruk diberikan panggung. Dia sadar ada yg tak beres dengan stadion dan pertandingan tadi, tapi tak kuasa menentang Duryodana. Tak sanggup dia tunjuk hidung Duryodana sebagai biang kecurangan. Tuk tutupi ketakberdayaannya, kembali lagi dia bual janji untuk buat stadion baru di seberang pulau. Stadion yang lebih baik, lebih megah, dan lapangan yang lebih rata katanya. Stadion baru yang bebas bising dan macet. Tapi sayang, tak satupun Baladewa mengamini. Teringat dulu saat masih jadi pecundang, Petruk sesumbar akan mudah membenahi stadion yang lama. Akhirnya semua paham, apapun yang akan dikerjakan Petruk ujungnya hanya akan menambah pundi-pundi emas Duryodana.

Di bibir panggung, pandangan Semar sepertinya kosong. Pikirannya menerawang jauh. Tak mampu dia bayangkan bagaimana dampingi Petruk satu purnama ke depan dan akan tetap di bawah bayangan Duryodana. Sepanjang hidup jadi panutan hidup bagi Baladewa, tapi tak mampu dia enyahkan durjana di depan matanya. Semar berharap ini semua mimpi dan ingin dia cepat terbangun untuk segera kembali ke kahyangan.

Baladewa kini hanya tinggal berharap pada Sang Kuasa. Laku upavasa mesti dilakukan tuk jadi upaya berserah diri dan panjatkan doa terbaik. Semoga akan ada keajaiban atau setidaknya dikuatkan hati tuk sanggup hadapi kenyataan di satu purnama kedepan...

#EndGame
#LanjutanCeritaNegriWayang
#MenangCurangApaEnaknyaSemar?
#SaatnyaKembaliPuasa




Sent from my Samsung Galaxy smartphone.

Selasa, 23 April 2019

Tanding Tandang di Kandang Kurawa

Alkisah Pandawa bermain bola di kandang Kurawa. Lawannya bukan Kurawa, tapi Punokawan. Sejak jauh hari Pandawa sudah mencium bau busuk di kandang Kurawa, tapi demi sportivitas tetap dijalankan meski tahu pertandingan tak akan mudah. Duryodana tetapkan pertandingan hanya 1 babak dan tidak ada pergantian sisi lapangan.

Saat diberi sesi latihan, sedari awal Pandawa sudah protes lapangan tidak rata seluruhnya. Hanya rata di sisi kanan, tapi sisi kiri lapangan bergelombang dan penuh dengan kubangan. Bola yang digunakan pun tidak bundar penuh, tapi lonjong jadi sulit bola ditebak arah tendangannya. Di luar lapangan, Baladewa terpaksa kecewa karena tak diberi jatah tiket.

Awalnya Kurawa berkilah protes itu hanya bualan Pandawa sendiri. Tapi setelah lihat fakta, Kurawa tetap tak bergeming dan berkelit itu hanya akal-akalan Pandawa supaya pertandingan dibatalkan. Baladewa pun disalahkan karena tak berusaha keras dapatkan tiket pertandingan. Terpaksa Baladewa hanya menonton pertandingan di depan layar.

Sebenarnya Punokawan bukanlah lawan tanding Pandawa. Dulu mereka bersatu, rukun dan guyub layaknya saudara kandung, tak saling berkubu seperti sekarang. Sejak Kurawa dikalahkan Pandawa, Duryodana membujuk rayu Petruk untuk dijadikan bonekanya. Duryodana paham Petruk ingin jadi juara, jadi tak perlu susah payah Kurawa mengalahkan Pandawa supaya jadi penguasa jagad bola.

Waktu Pertandingan pun dimulai. Tribun dikuasai Kurawa yang tiketnya seluruhnya gratis karena dibayari Duryodana ditambah kupon 5kg beras. Bola yang dipakai tetap lonjong. Wasit tentukan Punokawan dapat sisi kiri dan Pandawa sisi kanan.

Peluit tanda mulai tanding berbunyi. Keduanya saling serang. Pandawa kesulitan serang Punokawan karena sisi kiri tak rata. Sebaliknya Punokawan menyerang leluasa karena sisi kanan rata.
Wasitpun juga bermain. Lari tergopoh-gopoh karena kantongnya sudah penuh kepeng emas. Tak fokus pimpin pertandingan karena takut kepengnya berjatuhan. Wasit tak peduli berapa gol yang sudah masuk, di otaknya cuma teringat pesan Duryodana.

Tackle kasar Gareng tak digubris wasit, tapi sentuhan lembut Arjuna diganjar kartu kuning. Makian Bagong tak berbuah kartu merah, tapi teriakan Sadewa membuatnya keluar lapangan. Tendangan melengkung Bima yang masuk gawang tak dinyatakan sah, tapi sundulan offside Petruk menambah skor.

Di atas tribun, petugas skor tak ketinggalan bermain. Diubahnya gol Pandawa menjadi skor untuk Punokawan. Penonton di lapangan tak menyadarinya. Hanya penonton di layar kaca yang bisa lihat karena kameramen selalu sorot papan skor saat gol terjadi. Komite Pertandingan buru-buru buat pernyataan mempersilahkan penonton meralat hasil skor, tapi tetap bersikukuh papan skor di lapangan yg dipakai. Dia hanya akan meralat saat pertandingan telah usai.

Penonton layar di luar lapangan tetap bersabar, belum ada keinginan merangsek ke stadion untuk melabrak wasit, petugas skor, dan komite pertandingan. Sebagian membubarkan diri karena percuma berharap Pandawa menang dengan kecurangan ini.

Entah berapa lama lagi pertandingan berakhir, Pandawa tampak lelah karena energi terkuras menahan amarah karena dicurangi. Di sisi lain, bedak Punokawan tak juga luntur karena tak perlu berkeringat dan Petruk pun busungkan dada yakin dia jadi pemenangnya. Di sudut lapangan, Duryodana bersorak dengan Kurawa-nya. Hanya Semar di tiang gawang terdiam bingung harus bersikap apa melihat kecurangan ini.

Buat Baladewa tak masalah bila Pandawa kalah, tapi terpaksa dikalahkan ini yang membuat sakit hati. Tinggal berharap datangnya Bathara Guru yang memberi keadilan untuk semua.

#PertandinganBelumUsai
#CeritaNegriWayang

Jumat, 12 April 2019

Lelaki yang Tak Pernah Hadir

Entah ini pertanyaan atau keluhan dari anak ke ayahnya. Tapi tiba-tiba ini mengingatkan saya pada pertanyaan yang sama yang tidak pernah berani saya tanyakan ke Bapak saat saya kecil dulu. Pertanyaan sederhana anak yang sejatinya tak semudah diucapkan di mulut.
"Ayah, kenapa sih pulangnya malam terus?"

Saat kecil dulu sebetulnya pertanyaan terpendam saya jauh lebih banyak dibanding anak saya.
"Kenapa Bapak jarang di rumah?"
"Kenapa Bapak berangkat pagi betul dan pulang terlalu larut?"
"Kenapa Bapak jarang ajak jalan-jalan?"
"Kenapa Bapak hampir gak pernah belikan mainan?"
"Kenapa Bapak nyaris tak pernah antar anaknya ke sekolah?"
"Kenapa Bapak dinas luar kota lama?"

Hampir-hampir saat kecil dulu saya seperti tak kenal Bapak. Semua hal yang saya dan kakak-adik lakukan hanya ada Ibu di samping. Bapak ajak jalan hanya sekali-kali yang bisa dihitung dengan jari dalam hitungan tahun. Entah butuh berapa tahun saya baru bisa pahami Bapak.

Dan saya akhirnya baru benar-benar merasakan pemahaman ini saat menjadi sosok ayah seperti di posisi Bapak waktu itu.
Bapak memang jarang hadir buat anaknya, tapi hasil kerja kerasnya mampu biaya sekolah anaknya.
Bapak seperti tak punya waktu untuk ajari PR anaknya, tapi tetap sempatkan ingatkan waktu sholat.
Bapak memang tak punya waktu makan malam bersama, tapi do'anya tak pernah putus harap untuk bisa bersama keluarga selamanya.
Bapak yang habis waktunya untuk bekerja, tapi tak pernah kehabisan uang untuk cukup nafkahi keluarga dan bantu sanak saudara.

Sejatinya apa yang sekarang saya alami menjadi ayah adalah cerminan apa yang dialami Bapak dulu. Bila Bapak saat ini masih ada, pastinya dia akan tersenyum simpul sembari berkata, "Sekarang giliran kamu rasakan apa yang Bapak dulu rasa Nak..., Bersabarlah..."

Saat ini pasti Bapak bisa bangga untuk bilang saya sudah jadi laki-laki seutuhnya persis yang Bapak mau. Dulu dia lakukan ini semua pada anak lelakinya supaya tangguh dan kuat. Bapak tunjukkan tak peduli setangguh atau sekuat apapun, lelaki itu tak kan pernah sempurna di mata keluarga dan harus selipkan setulus kata maaf untuk cela perbuatannya. Tak pernah terbersit ingin dipuja karena Bapak sadar tak akan pernah sempurna.

Saya jadi paham kenapa dulu Bapak jarang sekali peluk saya. Bapak ingin saya tangguh di hadapannya dan hanya menangis di pelukan Ibu. Hal yang sama saat ini saya lakukan ke anak lelaki saya meski sesungguhnya saya ingin peluk dia.
Saya jadi paham kenapa Bapak jarang bicara ke anaknya karena ingin tunjukkan lelaki itu tak boleh keluh kesah, tapi jadi tempat luapkan keluhan. Hal yang persis saya tampakkan ke anak-anak.
Pantas saja Bapak tak pernah terlihat menangis dan air matanya selalu disembunyikan di sudut kesendiriannya karena tak ingin dia terlihat lemah. Di depan anak-anak selalu bilang Boys Dont Cry, tapi kita tak pernah tahu kalo ternyata Cry like a River.

Jujur saja lidah jadi kelu saat anak-anak protes dimana ayahnya saat mereka butuh saya hadir di samping. Ini takdir seorang lelaki yang dipaksa nasib menjadi pemimpin keluarga. Tak perlulah saya berkilah, "Ayah harus kerja hidupi kalian Nak..." atau berkelit, "Ayah sibuk dan gak sempat Nak...". Belajarlah dari Bapak, dia cukup beri pelukan dan lirih bisikkan, "Maafkan Bapak ya Nak...". Meski kata maaf itu tak pernah terdengar di telinga anaknya.

Mungkin benar adanya kata maaf itu tak perlu diucapkan Bapak. Justru saya lah yang harus ucapkan terima kasih karena sudah diajarkan bagaimana menjadi seorang ayah jauh sebelum saya saat ini mengalaminya sendiri.

#75/40 R19

Senin, 25 Maret 2019

Jaws or Paws

Just pretend you're a deer...

If a deer may have a choice what to get from a tiger, Jaws or Paws a deer will prefer?
Both are hurt and deadly for a deer to get...
When the Jaws get a deer's neck, nothing you can do. You just wait seconds to have your death.
But when the Paws grab a deer's body, at least you still have a chance to run. Then you'll be Safe. And after that moment you may say Ameen....

Unless you prefer the first one again, I need to give you a hug dear..... It means you're ready to be in dead mode for the second time...

#it's about picking a better option among two worst choices